l Kesadaran Masih Rendah | Investor Daily
ID Logo
Selamat datang Tamu   |   
Rabu, 24 April 2019
BS logo

60% MILENIAL BELUM PUNYA PERENCANAAN KEUANGAN (3)

Kesadaran Masih Rendah
Oleh Nida Sahara | Jumat, 12 April 2019 | 14:01

Moderator/Direktur Pemberitaan Beritasatu Media Group, Primus Dorimulu (kanan) bersama pembicara (kiri-kanan) Wakil Rektor Bidang Pengelolaan Sumber Daya Universitas Paramadina, Prima Naomi, Treasury Group Director LPS, Farid Nasution, Senior Manager Business Development Sequis Life, Yan Ardhianto, Vice President of Sharia Investree, Arief Mediadianto, Co-Founder Investhink Indonesia, Malik Adhi saat Seminar Literasi Keuangan, Goes To Campus dengan tema “ Peningkatan Pemahaman Terhadap Jasa Keuangan, Perencanaan & Produk-produk Jasa Keuangan di Era Generasi Milenial” di Universitas Paramadina Jakarta, Kamis (11/4/2019). Foto: BeritaSatu Photo/UTHAN A RACHIM Moderator/Direktur Pemberitaan Beritasatu Media Group, Primus Dorimulu (kanan) bersama pembicara (kiri-kanan) Wakil Rektor Bidang Pengelolaan Sumber Daya Universitas Paramadina, Prima Naomi, Treasury Group Director LPS, Farid Nasution, Senior Manager Business Development Sequis Life, Yan Ardhianto, Vice President of Sharia Investree, Arief Mediadianto, Co-Founder Investhink Indonesia, Malik Adhi saat Seminar Literasi Keuangan, Goes To Campus dengan tema “ Peningkatan Pemahaman Terhadap Jasa Keuangan, Perencanaan & Produk-produk Jasa Keuangan di Era Generasi Milenial” di Universitas Paramadina Jakarta, Kamis (11/4/2019). Foto: BeritaSatu Photo/UTHAN A RACHIM

Di tempat yang sama, Co-Founder Investhink Indonesia Malik Adhi mengatakan, banyaknya milenial yang masih tidak memiliki perencanaan keuangan karena kesadaran akan produk jasa keuangan yang masih rendah. Meskipun milenial memiliki produk keuangan seperti rekening tabungan di bank, memiliki polis asuransi, atau investasi, tapi tidak memahami tujuan dari penggunaan dari produk tersebut.

"Itu karena lebih besar inklusinya dibandingkan literasinya. Jadi sebenarnya yang paling penting itu bagaimana meningkatkan literasinya, bagaimana menggugah supaya mereka (milenial) sadar pentingnya kecerdasan keuangan. Karena milenial-milenial ini yang menjadi faktor pendorong ekonomi kita yang akan datang," terang Malik kepada Investor Daily.

Menurut dia, generasi milenial harus diberikan literasi sejak usia muda, salah satunya dengan mendatangi kampus-kampus atau membuat kelas untuk milenial. Pasalnya, potensi dari generasi milenial sangat besar, terlebih bonus demografi di Indonesia mencatatkan usia milenial menjadi populasi yang paling besar.

"Potensinya besar sekali, milenial ini tumbuh bersama teknologi dan informasi, dalam 5 tahun ke depan potensi sangat tinggi. Berbeda dengan generasi sebelumnya, kalau dilihat, ekonomi Indonesia juga dibilang bisa menjadi 4 besar dengan ekonomi terkuat di dunia. Itu harus dibangun dari generasi mudanya, kalau generasi muda siap, Indonesia bisa capai kekuatan ekonomi dunia itu," ungkap Malik.

Dia menambahkan, berdasarkan data PwC tahun 2017, sebanyak 41% generasi milenial memiliki tantangan dalam memenuhi standar gaya hidupnya. Hal tersebut dikarenakan masih sedikit yang memiliki perencanaan keuangan. Selain itu, dari data PWC, 28% masyarakat di Indonesia juga memiliki arus kas defisit.

"Kita selama ini diajarkan bagaimana mencari uang, namun tidak pernah diajarkan bagaimana mengelola uang," lanjut Malik.

Pada 2017, jumlah generasi milenial di Indonesia mencapai lebih 91 juta orang, atau sekitar 49% dari penduduk usia produktif. Jumlah generasi milenial akan meningkat 12% pada 2025, dan tumbuh 21% pada 2035. (bersambung)

Baca selanjutnya di https://id.beritasatu.com/financialplanning/belanja-dengan-bijak/187540




Kirim Komentar Anda


Data tidak tersedia.