l Hambat Repatriasi Profit untuk Memperkecil CAD | Investor Daily
ID Logo
Selamat datang Tamu   |   
Kamis, 21 Maret 2019
BS logo

Hambat Repatriasi Profit untuk Memperkecil CAD
Oleh Arnoldus Kristianus dan Devie Kania | Jumat, 15 Maret 2019 | 14:07

(Depan) Direktur Utama PT Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI) Friderica Widyasari Dewi (tengah), bersama (ki-ka) Pemimpin Redaksi Investor Daily Primus Dorimulu, Executive Director The Indikator Politik Indonesia Burhanuddin Muhtadi, Direktur BEI Risa E. Rustam, Komisaris Utama BEI John Aristianto Prasetio, mantan Menteri Keuangan/Senior Partner & Co Founder Creco Consulting M Chatib Basri, Direktur Pengelolaan Investasi Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Sujanto, Komisaris Utama KSEI Rahmat Waluyanto, Komisaris KSEI Dian Fithri Fadila. (Belakang) Direktur BEI Hasan Fawzi, Direktur KSEI Supranoto Prajogo, Pemimpin Redaksi Bisnis Indonesia Hery Trianto, Direktur Utama KPEI Sunandar, Direktur KSEI Syafruddin, Direktur KPEI Iding Pardi, Direktur KPEI Umi Kulsum dan Komisaris KPEI Margeret Mutiara Tang (kanan),foto bersama usai diskusi dengan tema ‘Politik dan Ekonomi’ bersama para pengguna jasa KSEI, di Jakarta, Kamis (14/3/2019). KSEI berharap, para pelaku industri pasar modal khususnya pengguna jasa KSEI dapat memperoleh informasi yang bermanfaat untuk menentukan strategi usaha di 2019. Foto: Investor Daily/DAVID GITA ROZA (Depan) Direktur Utama PT Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI) Friderica Widyasari Dewi (tengah), bersama (ki-ka) Pemimpin Redaksi Investor Daily Primus Dorimulu, Executive Director The Indikator Politik Indonesia Burhanuddin Muhtadi, Direktur BEI Risa E. Rustam, Komisaris Utama BEI John Aristianto Prasetio, mantan Menteri Keuangan/Senior Partner & Co Founder Creco Consulting M Chatib Basri, Direktur Pengelolaan Investasi Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Sujanto, Komisaris Utama KSEI Rahmat Waluyanto, Komisaris KSEI Dian Fithri Fadila. (Belakang) Direktur BEI Hasan Fawzi, Direktur KSEI Supranoto Prajogo, Pemimpin Redaksi Bisnis Indonesia Hery Trianto, Direktur Utama KPEI Sunandar, Direktur KSEI Syafruddin, Direktur KPEI Iding Pardi, Direktur KPEI Umi Kulsum dan Komisaris KPEI Margeret Mutiara Tang (kanan),foto bersama usai diskusi dengan tema ‘Politik dan Ekonomi’ bersama para pengguna jasa KSEI, di Jakarta, Kamis (14/3/2019). KSEI berharap, para pelaku industri pasar modal khususnya pengguna jasa KSEI dapat memperoleh informasi yang bermanfaat untuk menentukan strategi usaha di 2019. Foto: Investor Daily/DAVID GITA ROZA

JAKARTA -- Upaya mengatasi current account deficit (CAD) atau defisit transaksi berjalan tidak cukup hanya dengan menggenjot ekspor dan menarik investasi asing sebanyak-banyaknya. Repatriasi profit investor asing ke negeri asalnya perlu dihambat dengan berbagai kebijakan, di antaranya insentif bagi perusahaan yang menginvestasikan kembali profitnya di Indonesia.

"Pada tahun 2018, repatriasi profit investor asing sekitar US$ 16,1 miliar," kata ekonom Chatib Basri pada diskusi Indonesia"s Economy Outlook 2019 yang diadakan PT Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI) di gedung Bursa Efek Indonesia (BEI), Kamis (15/3/2019).

Diskusi yang dipandu oleh Pemimpin Redaksi Investor Daily/Suara Pembaruan Primus Dorimulu itu juga menghadirkan pembicara Burhanuddin Muhtadi, peneliti dari Indikator Politik Indonesia. Dari diskusi ini, KSEI berharap para pelaku pasar modal, khususnya pemakai jasa layanan KSEI, dapat memperoleh informasi yang bermanfaat untuk menentukan strategi usaha pada 2019.

Pada tahun 2018, CAD Indonesia US$ 31,7 miliar atau 2,9% dari PDB. CAD yang besar, kata Chatib, sebetulnya tidak masalah selama kurs rupiah stabil dan pertumbuhan ekonomi memadai. Contohnya Singapura yang pernah didera CAD hingga 10% dan Republik Rakyat Tiongkok (RRT) mencapai 12% dari total PDB. Namun, ekonomi kedua negara itu berjalan baik karena ada stabilitas kurs dan ekonomi bertumbuh tinggi.

Sedangkan Indonesia selalu mengalami masalah setiap kali terjadi kenaikan CAD. Rupiah langsung melemah terhadap dolar dan kondisi acap memaksa otoritas fiskal menaikkan suku bunga acuan. Apalagi pada waktu yang sama bank sentral AS menaikkan fed fund rate (FFR). "Masalah utama ekonomi makro Indonesia ada di nilai tukar yang terlalu volatil," ujar mantan Menkeu itu. (bersambung)

Baca selanjutnya di https://id.beritasatu.com/international/the-fed-diprediksi-hanya-sekali-naikkan-suku-bunga/186704




Kirim Komentar Anda