l Kondisi Ekonomi Global Makin Sulit Diprediksi | Investor Daily
ID Logo
Selamat datang Tamu   |   
Kamis, 21 Maret 2019
BS logo

HAMBAT REPATRIASI PROFIT UNTUK MEMPERKECIL CAD (3)

Kondisi Ekonomi Global Makin Sulit Diprediksi
Oleh Arnoldus Kristianus dan Devie Kania | Jumat, 15 Maret 2019 | 14:01

Dia juga mengatakan, kondisi ekonomi global global semakin sulit diprediksi. Selain faktor arah suku bunga acuan The Fed, dunia sedang dilanda perang dagang (trade war) AS versus RRT dan harga komoditas yang melemah. Ekonomi Tiongkok sudah melemah akibat perang dagang dan dampaknya akan dialami Indonesia sebagai eksportir batu bara dan CPO ke negeri Tirai Bambu itu.

Kendati demikian, Chatib optimistis, ekonomi Indonesia tahun ini akan berjalan baik. Meski terjadi defisit neraca transaksi berjalan dan defisit neraca perdagangan, perdagangan di dalam negeri cukup besar. Peran ekspor Indonesia terhadap PDB hanya 32,1%. Beda dengan kontribusi ekspor Singapura terhadap PDB-nya yang mencapai 216% dan Malaysia yang sebesar 131%.

Chatib yakin, laju pertumbuhan ekonomi Indonesia tahun ini bisa mencapai 5,2% karena kenaikan konsumsi masyarakat. Peningkatan konsumsi masyarakat, antara lain, disebabkan oleh kenaikan belanja untuk perlindungan sosial yang mencapai Rp 381 triliun atau naik 32,7% dari tahun 2018.

Selain itu, APBN mengalokasikan dana desa, dana pendidikan, dana ksehatan. Untuk menggerakkan usaha, pemerintah juga menyediakan kredit usaha rakyat (KUR).

Sementara itu, dana asing akan masuk Indonesia tahun ini akibat kebijakan The Fed. "Dalam bersaing dengan Thailand, Malaysia, Filipina, dan Vietnam, Indonesia lebih menarik sebagai tujuan investasi," kata Chatib.

Mengenai risiko politik, Burhanuddin Muhtadi menilai tahun ini relatif kecil. Meski ada pilpres yang disatukan dengan pileg, politik akan berjalan stabil.

"Tak perlu terlalu serius melihat politik Indonesia karena apa pun kompetisi di lapangan, di belakang layar selalu terjadi deal yang mempersatukan," ujar Burhanuddin. (bersambung)

Baca selanjutnya di https://id.beritasatu.com/macroeconomics/perlu-kebijakan-khusus-hambat-repatriasi/186702




Kirim Komentar Anda