l Meski Ada Kampanye Negatif, BPS: Neraca Perdagangan ke Eropa Positif | Investor Daily
ID Logo
Selamat datang Tamu   |   
Rabu, 24 April 2019
BS logo

Meski Ada Kampanye Negatif, BPS: Neraca Perdagangan ke Eropa Positif
Senin, 15 April 2019 | 18:21

JAKARTA- Badan Pusat Statistik (BPS) menyatakan bahwa meski ada kampanye negatif terhadap produk kelapa sawit yang merupakan ekspor andalan Indonesia, neraca perdagangan antara Indonesia dan Uni Eropa masih positif.

"Secara umum neraca perdagangan ke Eropa masih positif," kata Kepala BPS Suhariyanto dalam konferensi pers di Jakarta, Senin.

Suhariyanto memaparkan pada Januari-Maret 2019 nilai ekspor ke Uni Eropa adalah sebesar US$ 3,6 miliar, sedangkan impornya US$ 3,02 miliar.

Dengan demikian, neraca perdagangan Indonesia ke Uni Eropa masih surplus sekitar US$ 580 juta. "Tentu ada situasi yang berbeda-beda, kita dengan Jerman mengalami defisit, dengan Belanda kita surplus. Secara umum masih bagus karena kita masih surplus US$ 587 juta," paparnya.

Namun mengenai nilai ekspor sawit ke beberapa negara di Uni Eropa memang mengalami penurunan seperti ke Inggris selama Januari-Maret 2019 dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya, nilai-nya turun 22%, ke Belanda juga mengalami penurunan 39%, begitu pula dengan ekspor ke negara lainnya seperti Jerman, Italia, dan Spanyol.

Kepala BPS berpendapat bahwa penurunan terjadi karena ada kampanye negatif terhadap produk kelapa sawit Indonesia.

"Saya yakin pemerintah sudah mengantisipasinya dan akan bernegosiasi dengan negara-negara Eropa (terkait kampanye negatif) itu," ucapnya.

Suhariyanto juga mengungkapkan bahwa sawit juga termasuk di dalam komoditas nonmigas yang mengalami penurunan harga pada Maret dibandingkan bulan sebelumnya, seperti minyak kernel, coklat, perak, dan batu bara.
 

Kebijakan diskriminatif
Sebelumnya, Pemerintah ndonesia menegaskan bahwa kebijakan Uni Eropa yang melarang produk kelapa sawit adalah kebijakan yang diskriminatif dan merupakan bentuk proteksi terselubung terhadap komoditas yang sangat penting bagi Indonesia.

"Tidak ada keraguan (kebijakan sawit Uni Eropa) ini diskriminasi, dengan latar belakang proteksionisme yang kemudian dibungkus dengan berbagai bahan ilmiah yang saintifik," kata Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Darmin Nasution dalam acara Briefing Diskriminasi Uni Eropa terhadap Kelapa Sawit yang digelar di Kementerian Luar Negeri, Jakarta, 20 Maret 2019.

Darmin mengatakan produk kelapa sawit adalah produk yang sangat penting bagi Indonesia terutama dalam rangka mengentaskan kemiskinan dan membuka lapangan pekerjaan bagi jutaan warga Indonesia.

Ia memaparkan bahwa saat ini untuk industri kelapa sawit telah mempekerjakan sebanyak 7,5 juta orang secara langsung dan ditambah 12 juta orang secara tidak langsung.

Belum lagi, lanjutnya, ditambah dengan smallholders farmers (petani kecil) yang berjumlah 2,6 juta orang, yang mempekerjakan sebanyak 4,3 juta orang. "Jelas sawit mempunyai peranan yang sangat penting dalam pengentasan kemiskinan," kata Darmin. (gor/ant)




Kirim Komentar Anda