l Teknologi Bagian Penting Strategi Transformasi Digital di Asia Pasifik | Investor Daily
ID Logo
Selamat datang Tamu   |   
Kamis, 21 Maret 2019
BS logo

SURVEI F5 NETWORKS:

Teknologi Bagian Penting Strategi Transformasi Digital di Asia Pasifik
Rabu, 13 Maret 2019 | 15:56

Fetra Syahbana F5 Fetra Syahbana F5

JAKARTA – Perusahaan-perusahaan di Asia Pasifik tengah menikmati keuntungan dari penggunaan teknologi-teknologi yang sedang berkembang untuk mempercepat proyek-proyek transformasi digital mereka.

Laporan State of Application Services (SOAS) 2019 dari F5 Networks (NASDAQ: FFIV) mengungkap, 41% perusahaan di kawasan Asia Pasifik menerapkan container (teknologi yang dapat mengisolasi sebuah proses dari sistem secara keseluruhan), dan memanfaatkan metodologi pengembangan yang lincah untuk menghadirkan aplikasi yang lebih cerdas dan lebih cepat.

Meskipun pergeseran tersebut memunculkan berbagai peluang baru untuk otomasi dan kelincahan, tingkat kompleksitas juga meningkat. Dengan demikian, perusahaan-perusahaan menghadapi tantangan-tantangan lain seperti penerapan keamanan yang konsisten dan optimalisasi standar performa yang andal.

“SOAS tahun ini menunjukkan bahwa meskipun banyak perusahaan bergerak menuju transformasi digital, kemampuan untuk terus menempatkan keamanan yang konsisten menjadi inti dari layanan aplikasi. Dengan mempertahankan kebijakan, keamanan, dan ketersediaan yang seragam ke seluruh portfolio aplikasi, perusahaan-perusahaan dapat memaksimalkan nilai dari aplikasi (application capital) dan terus menumbuhkan bisnis mereka,” papar Fetra Syahbana, Country Manager F5 Networks Indonesia di Jakarta, Selasa (12/3).

Di tahun kelimanya, laporan State of Application Services 2019 mensurvei 1.863 responden di Asia Pasifik, mencari tahu pendekatan-pendekatan yang diambil oleh perusahaan-perusahaan dalam melakukan transformasi digital serta bagaimana cara mereka mengoptimalisasi layanan aplikasi mereka sehingga memiliki keunggulan yang kompetitif dan berdampak terhadap bisnis. 

Perusahaan-perusahaan di Asia Pasifik sudah melakukan transformasi digital, yang fokus pada penerapan teknologi-teknologi yang berkembang. 

Transformasi digital terus menjadi penentu arah strategi yang signifikan di kawasan ini, dengan 66% perusahaan saat ini sudah memiliki atau berencana melakukan proyek-proyek transformasi digital. Hal ini menekankan pentingnya big data dan berbagai kemungkinan dari big data dan analisis ancaman secara real-time. Australia – Selandia Baru dan India khususnya, mencatatkan pencapaian tertinggi dalam penerapan transformasi digital, yakni masing-masing 93% dan 94%. 

Perusahaan-perusahaan di kawasan ini juga tertarik dengan teknologi-teknologi yang sedang berkembang. Tercatat lebih dari setengah responden (56%) sudah menggunakan teknologi seperti container. Seluruh pergeseran ini mengarah pada landskap aplikasi automated yang digerakan oleh bisnis dan tersimpan di cloud—yang dengan ini perusahaan-perusahaan dapat memiliki keunggulan kompetitif yang disertai dengan beragam peluang bisnis baru.

Keamanan yang konsisten dan visibilitas adalah kunci di dunia multi-cloud Tantangan utama dalam adopsi multi-cloud masih seputar upaya untuk menerapkan keamanan yang konsisten di seluruh aplikasi. 

Secara keseluruhan, hanya 34% responden Asia Pasifik yang merasa yakin dapat menghadapi serangan di sisi aplikasi. Hal ini dapat dipahami mengingat rata-rata perusahaan menggunakan 765 aplikasi web sehingga keamanan aplikasi menjadi isu yang sangat penting. Oleh karena itu, perusahaan-perusahaan ini harus mempertimbangkan hal-hal di luar perimeter keamanan karena firewall jaringan saja tak cukup untuk memberi perlindungan yang memadai bagi aplikasi-aplikasi perusahaan. 

Fakta menunjukkan, responden global sudah mengetahui bahwa mengadopsi kombinasi layanan keamanan (WAF/web application firewall, analitik perilaku, kontrol akses aplikasi) akan sangat membantu.

Demikian juga, mengoptimalkan visibilitas performa aplikasi sangat penting bagi ‘kesehatan’ digital dan kesuksesan bisnis perusahaan. F5 melihat bahwa perusahaan-perusahaan di Asia Pasifik memprioritaskan analitik big data (52%), artificial intelligence (42%), dan analitik ancaman secara real-time (38%) untuk tujuan tersebut. 

Otomasi dan orkestrasi semakin populer, meski masih ada hambatan.

Perusahaan-perusahaan di Asia Pasifik berada di lini depan dalam hal otomasi dan orkestrasi (pengaturan, koordinasi dan manajemen sebuah sistem komputer, middleware dan layanan yang ter-otomasi), dengan 60% responden mengaku sudah menerapkan inisiatif tersebut. 

Namun, tantangannya masih banyak. Kurangnya pekerja profesional terlatih adalah salah satu yang dirasakan di kawasan ASEAN (52%) dan Jepang (54%), di tengah perjuangan mereka untuk mengatasi kekurangan tenaga kerja secara global. Meningkatnya regulasi akibat implementasi undang-undang privasi data juga mempengaruhi Australia-Selandia Baru (58%), ASEAN (51%), dan India (51%) karena ketaatan terhadap regulasi yang dipaksakan akan memunculkan risiko hilangnya data perusahaan dan pencurian IP. 

Selain faktor-faktor eksternal, proses bisnis juga terpengaruh oleh kurangnya dana untuk tools baru, sehingga memperlambat adopsi teknologi. Hambatan-hambatan ini juga menunjukkan adanya kebutuhan untuk menghapus kekhawatiran pengguna (end user) terhadap upaya mempercanggih infrastruktur. 

Tahun ini, terdapat perbedaan yang sangat mencolok di sejumlah kawasan Asia Pasifik, khususnya dalam hal respon terhadap transformasi digital, teknologi yang sedang berkembang, serta solusi otomasi.

Seiring dengan transformasi digital yang terus mengubah lanskap, menempatkan layanan keamanan yang konsisten akan membantu perusahaan untuk terus melaju dan berkembang. Dengan mempertahankan kebijakan, keamanan dan ketersediaan yang seragam di seluruh portfolio aplikasi perusahaan, mereka akan bisa meningkatkan nilai dari aplikasi dan terus menumbuhkan bisnis mereka. (is)




Kirim Komentar Anda