l Wika Gedung bakal Spin Off dan IPO Bisnis Modular | Investor Daily
ID Logo
Selamat datang Tamu   |   
Jumat, 26 April 2019
BS logo

Wika Gedung bakal Spin Off dan IPO Bisnis Modular
Kamis, 30 Agustus 2018 | 10:39

JAKARTA – PT Wijaya Karya Bangunan Gedung Tbk (WEGE) atau Wika Gedung berkomitmen mengembangkan bisnis di divisi modular, yang direncanakan untuk dipisah (spin off) menjadi anak usaha. Kelak, anak usaha tersebut akan melangsungkan penawaran umum perdana (initial public offering/IPO) saham pada 2023.

Direktur HC dan Pengembangan Wika Gedung Nur Al Fata menyatakan, secara bertahap, perseroan mulai mengembangkan bisnis modular. Jika saat ini produksi modular baru dilakukan di workshop dan memanfaatkan wilayah yang dimiliki oleh sister company, tapi perseroan telah memproses rencana pembangunan pabrik di atas lahan seluas 2,6 hektare (ha) di Cibungur, Purwakarta.

"Tahun depan, kami prediksi produksi modular atau bangunan dari baja yang dibuat, kapasitasnya dapat mencapai 1.700 unit. Adapun produksi modular antara lain dapat digunakan untuk toilet, pembangunan hotel, atau proyek gedung lainya," ujar Al Fata di Jakarta, Rabu (29/8).

Untuk mencapai kapasitas produksi hingga 1.700 unit, Al Fata menegaskan, pihaknya berupaya agar pembangunan pabrik modular dapat rampung pada semester I-2019. "Sebab, kalau di fasilitas workshop yang ada, kapasitasnya belum sebesar dibandingkan kami mendirikan pabrik," papar dia.

Adapun rencana ekspansi bisnis di modular itu, Al Fata akui, pihaknya berniat membawa divisi bisnis itu menjadi anak usaha dan disusul untuk didorong melangsungkan IPO saham pada 2023. "Namun, rencananya itu akan dilakukan dengan catatan bahwa jika divisi bisnis modular sudah dapat memberikan kontribusi pendapatan sebesar Rp 150 miliar kepada total pendapatan Wika Gedung," ungkap dia.

Terkait IPO, Wika Gedung sendiri merupakan anak usaha dari PT Wijaya Karya Tbk (WIKA) yang melangsungkan IPO saham pada kuartal IV-2017. Saat itu, Wika Gedung meraih Rp 852,88 miliar melalui aksi korporasi tersebut.

Di samping berkomitmen mengembangkan bisnis modular, Al Fata mengakui, perseroan masih melanjutkan rencana mengakuisisi perusahaan di bidang geoteknologi.

"Rencana masih berlanjut, itu kan sudah disampaikan saat mau menawarkan IPO saham. Cuma belum terealisasi, karena calon rekanan yang merupakan pemilik perusahaan juga sedang melakukan valuasi dan kajian, sehingga ke depan akan dicocokan dengan hasil valuasi yang sudah dilakukan Wika Gedung," ungkap dia.

Adapun Al Fata menyatakan, jika akuisisi perusahaan tersebut rampung, tentu perseroan akan mendapat peningkatan kompetensi bisnis dari aspek engineering. "Jadi ini rencana akuisisi itu cukup penting," tegas dia.

Revisi Kinerja

Meninjau pencapaian kontrak baru yang menyentuh Rp 5,96 triliun sampai Agustus 2018, kini perseroan merevisi naik total kontrak baru yang diincar tahun ini dari Rp 7,83 triliun menjadi Rp 8,05 triliun. Senada dengan hal itu, perseroan pun mengakui bahwa berpeluang meraih kenaikan pendapatan dan laba bersih di atas proyeksi saat awal tahun.

Lebih rinci, dia mengemukakan bahwa total pendapatan tahun 2018 berpeluang tembus Rp 5,88 triliun atau lebih tinggi dari prediksi sebelumnya yang sebesar Rp 5,56 triliun. Sedangkan tahun lalu, Wika Gedung justru baru membukukan total pendapatan Rp 3,89 triliun. "Kemudian kami juga merevisi target laba bersih tahun 2018 dari Rp 425,7 miliar menjadi Rp 443 miliar," ujar Al Fata. (dka)




Kirim Komentar Anda