l Pelaku Bisnis Inggris: Setop Sirkus Brexit | Investor Daily
ID Logo
Selamat datang Tamu   |   
Kamis, 21 Maret 2019
BS logo

Pelaku Bisnis Inggris: Setop Sirkus Brexit
Kamis, 14 Maret 2019 | 8:18

LONDON – Para pelaku bisnis Inggris mendesak para politikus untuk mencegah Brexit tanpa kesepakatan. Desakan keluar setelah Perdana Menteri (PM) Theresa May tidak mendapatkan persetujuan Parlemen atas kesepakatan berpisah dari Uni Eropa (UE).

Para anggota parlemen dijadwalkan menggelar pemungutan suara pada Rabu (13/3) waktu setempat, tentang apakah Inggris akan meninggalkan blok UE tanpa kesepakatan. Sedangkan sisa waktu tinggal dua pekan lagi dari Brexit resmi pada 29 Maret 2019.

Para analis memperkirakan, sebagai ganti menolak kesepakatan yang diajukan May, parlemen diprediksi memilih menunda Brexit dalam pemungutan suara lanjutan pada Kamis (14/3).

Perkembangan cepat ini menggoyang pasar finansial dunia dan membayangi perubahan anggaran Inggris yang dijadwalkan rilis Rabu siang waktu setempat. Yang mana akan mencakup dampak terbaru Brexit pada prediksi pertumbuhan ekonomi.

“Sudah waktunya bagi parlemen untuk menghentikan sirkus ini,” ujar Carolyn Fairbairn – direktur jenderal

Konfederasi Industri Inggris atau Confederation of British Industry (CBI).

Parlemen Inggris menolak rancangan perjanjian Brexit antara May dan UE -untuk kedua kalinya- pada Selasa (12/3) malam.

Fairbairn menambahkan, May harus memperpanjang tenggat waktu untuk keluar dari blok, yang tercantum di Pasal 50. Supaya ada waktu yang cukup bagi kesepakatan yang dapat diterima.

“Sudah cukup. Ini pasti hari terakhir politik yang gagal. Butuh pendekatan baru dari semua pihak. Lapangan pekerjaan dan mata pencaharian bergantung pada itu. Perpanjangan Pasal 50 untuk menghalangi Brexit tanpa kesepakatan pada Maret kini sangat mendesak,” kata Fairbairn dalam sebuah pernyataan. Kamar Dagang Inggris atau British Chambers of Commerce (BCC) – yang mewakili ribuan perusahaan – juga sepakat harus menghindari jalan keluar tanpa kesepakatan. Bahkan mereka sudah menyuarakan kemarahannya ketika para politisi masih bergulat dengan bagaimana memfasilitasi hasil dari referendum keluar Uni Eropa yang terjadi pada Juni 2016.

“Tidak ada lagi kata-kata untuk menggambarkan rasa frustasi, ketidaksabaran, dan kemarahan yang meningkat di antara perusahaan-perusahaan, setelah perjalanan politik berisiko tinggi selama 2,5 tahun tanpa menunjukkan tanda-tanda untuk berhenti,” demikian pernyataan BCC. (afp/pya)




Kirim Komentar Anda