Dharnawati membantah pernah bertemu Muhaimin

Nana hanya pernah mengancam Dadong Irbarelawan dan I Nyoman Suwisnaya ke KPK

Dharnawati, pengusaha dari PT Alam Jaya Papua, membantah pernah bertemu dengan Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi [Menakertrans] Muhaimin Iskandar.

Padahal sebelumnya, Farhat Abbas, kuasa hukum Nana, nama panggilan Dharnawati, mengakui kliennya pernah bertemu Muhaimin untuk melaporkan permintaan suap yang dilakukan oleh bawahan Muhaimin.

"Belum. Nggak pernah [bertemu Muhaimin]," kata Nana usai menjalani pemeriksaan di Komisi Pemberantasan Korupsi [KPK].

Menurut Nana, dia hanya pernah mengancam akan melaporkan kelakuan Sekretaris Direktorat Jenderal Pembinaan, Pembangunan Kawasan Transmigrasi [Ditjen P2KT] I Nyoman Suwisnaya, Kepala bagian Perencanaan dan Evaluasi Seskretaris Ditjen P2KT, Dadong Irbarelawan ke KPK.

"Saya pernah mengancam untuk melaporkan ke KPK. Ke Pak Jasin [Wakil Ketua KPK Bidang Pencegahan]," kata Nana.

Tentang pembayaran komitmen 10 persen di awal proyek, menurut Dharnawati, Sindu Malik Prihadi,  Nyoman dan Dadong lah yang meminta itu.

"Sindu, Nyoman dan Dadong di ruangan Sekretaris Pribadi [Sutrisno] pernah meminta saya 10 persen, bahwa untuk usulan itu kita harus menyetor 10 persen tapi saya nggak mau," kata Nana.

Nana mengatakan, untuk meyakinkan dirinya tentang adanya pembayaran komitmen awal sebesar 10 persen,  dia sempat diperlihatkan oleh Sindu orang-orang yang sudah menyetor ke Kemenakertrans.

Menurut Nana, permintaan uang itu, oleh Dadong, Sindu dan Nyoman diatasnamakan Muhaimin.

Akan tetapi, Nana mengaku tak langsung mempercayai.

Nana lantas menghubungi Dhani Nawawi, orang yang diduga staf khusus Presiden, untuk mengecek ulang apakah benar permintaan 10 persen itu atas nama Muhaimin.

"Ternyata waktu itu karena duit sudah banyak di mobil dan sudah terlalu lama dan dr Dhani belum ketemu beliau [Muhaimin], terpaksa saya serahkan langsung," kata Nana.