l Seksinya Investasi di Peer to Peer Lending | Investor Daily
ID Logo
Selamat datang Tamu   |   
Rabu, 24 April 2019
BS logo

Seksinya Investasi di Peer to Peer Lending
Oleh Boy Hazuki Rizal | Jumat, 2 Maret 2018 | 10:09

Kemajuan teknologi digital ‘zaman now’, membawa banyak perubahan, salah satunya dari sisi finansial. Kalau dulu kita perlu datang ke bank atau institusi keuangan lainnya untuk investasi, sekarang cukup dengan smartphone Anda. Tinggal klik, Anda sudah bisa memilih investasi seperti apa yang Anda mau. Saat ini salah satu pilihan untuk investasi adalah melalui Peer to Peer Lending (P2PL).

 

Peer to peer lending adalah suatu wadah atau market place di mana antara pemberi pinjaman dan peminjam dipertemukan dalam suatu wadah secara online. Saat ini P2P ini merupakan platform yang dikuasai oleh perusahaan rintisan (start-up) teknologi finansial (tekfin). Pendanaan online merupakan salah satu alternative channel yang dapat digunakan untuk berinvestasi. Channel ini memberikan imbal hasil yang jauh lebih besar daripada produk perbankan, bahkan ada yang bisa memberikan lebih besar daripada rata-rata produk reksadana saham di pasar modal.

 

Dalam pendanaan online yang difasilitasi oleh perusahaan tekfin, proses pendanaan online akan dilakukan setelah ada pengajuan pinjaman yang dilakukan baik oleh individu maupun oleh badan usaha (Usaha Mikro Kecil dan Menengah/ UMKM). Pendanaan online ini dilakukan melalui penggalangan dana yang dibuka oleh perusahaan tekfin dalam platform mereka. Siapa saja boleh berpartisipasi dengan mengikuti syarat dan ketentuan dari masing-masing platform tekfin.

 

Dalam penggalangan dana ini, pihak yang ingin melakukan pendanaan, dapat mengetahui, berapa besar dana yang dibutuhkan, lama waktu (tenor) dan berapa bunga yang diberikan sebagai imbal hasil atas pendanaan yang diberikan. Seperti halnya perbankan, credit scoring juga dilakukan oleh tekfin untuk menilai karakter dan kapasitas dari si peminjam.

 

Pendanaan online ini terlihat seksi, karena ada beberapa perusahaan tekfin yang mampu memberikan bunga jauh di atas rata-rata, dibandingkan dengan produk investasi konvensional seperti reksadana saham. Ada yang mengklaim mampu memberikan bunga hingga 35% per tahun, ini jauh di atas reksadana saham yang ‘hanya’ memberikan imbal hasil berkisar 15-20% per tahun.

 

Untuk memulai investasi melalui pendanaan online ini, ada beberapa hal yang perlu jadi perhatian. Yang pertama, adalah risiko. Semakin tinggi bunga atau imbal hasil yang diberikan kepada pendana online, semakin besar risiko dari peminjam. Risiko yang dimaksud adalah risiko gagal bayar. Artinya ada kemungkinan pengembalian dana pokok dan bunga pinjaman macet atau tidak bayar sama sekali di tengah jalan.

 

Credit scoring yang dilakukan oleh perusahaan tekfin, dicerminkan dalam grade yang disematkan dalam proposal pinjaman online tersebut. Semakin rendah grade, semakin tinggi imbal hasil yang diberikan kepada pendana online. Sebagai contoh, misalnya X mengajukan proposal pinjaman dan setelah dilakukan penilaian, mendapatkan grade A+, maka bunga yang dikenakan 12%, artinya kemampuan dan kapasitas bayar X sangat meyakinkan. Sementara Y mendapatkan grade C-, bunga yang dikenakan oleh tekfin 22%, artinya risiko Y kemungkinan gagal bayar atau default, dikompensasi dengan suku bunga yang tinggi.

 

Hal lain yang bisa dilihat, khususnya untuk proposal penawaran dari bisnis, ada platform yang memberikan ringkasan laporan keuangan seperti pendapatan dan laba. Seperti umumnya orang berbisnis, pasti ujungnya adalah untung, kalau bisnis tapi tidak untung kan buat apa. Untuk melihat untung atau tidaknya, bisa dilihat melalui laporan keuangan. Laporan keuangan ini menampilkan kinerja dari bisnis tersebut. Kalau pendapatan dan laba bersihnya positif dan bagus, bisa jadi pilihan investasi.

 

Dalam hal ini, Anda tetap perlu menilai, meskipun diasumsikan pihak tekfin sudah melakukan analisis yang memadai untuk menilai kelayakan atas proposal pinjaman sebelum ditawarkan di platform.

 

Yang kedua, biaya. Ada perusahaan tekfin yang mengklaim tidak memungut biaya atas pendanaan yang dilakukan, tapi ada juga yang memotong. Namanya bisa service fee, biaya platform, biaya layanan, biaya administrasi, dll. Biaya layanan pendanaan bisa dihitung berdasarkan persentase atas nominal bunga (imbal hasil) yang diberikan, besarnya biaya sekitar 1-3%.

 

Jadi kalau nilai nominal bunga 22%, dikurangi biaya 3%, maka suku bunga yang diterima sebagai imbal hasil ‘hanya’ 19%. Jika Anda berinvestasi lewat tekfin secara online, tanyakanlah secara jelas mengenai biaya jasa ini, apakah ada atau tidak? Jika ada, berapa besarnya? Karena ini akan mengurangi bunga atau imbal hasil yang mestinya diterima.

 

Kemampuan dan Tujuan Investasi

Yang ketiga adalah minimum modal investasi. Ada perusahaan tekfin yang meminta dana yang dimasukkan dalam account sebelum dapat mulai berinvestasi di platform mereka minimum sebesar Rp 100 juta, ada yang minimumnya Rp 10 juta, dan ada juga yang hanya Rp 100 ribu. Ada platform yang mengharuskan pendanaan atau investasi harus kelipatan Rp 1 juta untuk pendanaan individu atau Rp 5 juta untuk bisnis. Pilihan platform disesuaikan dengan kemampuan dan tujuan investasi Anda.

 

Yang keempat adalah diversifikasi. Untuk diversifikasi bisa dilakukan pada satu platform dengan proposal pinjaman yang berbeda atau pada berbagai platform yang berbedabeda. Contohnya, jika Anda punya dana investasi Rp 100 juta, maka investasi bisa dilakukan pada satu platform untuk 10 proposal pinjaman yang berbeda dengan pendanaan masing-masing @Rp 10 juta, atau investasi pada 10 platform tekfin yang berbeda-beda untuk 10 proposal dengan nilai masing-masing @Rp 10 juta.

 

Tujuannya untuk meminimalkan risiko dan memaksimalkan imbal hasil. Saat ini, per 25 Januari 2018, sudah ada 32 perusahaan tekfin yang terdaftar dan diawasi oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK). Tinggal Anda pilih, mana yang sesuai dengan tujuan investasi Anda. Dengan adanya platform teknologi finansial, investasi sekarang menjadi lebih luas, tidak terpaku pada instrumen investasi konvensional dan lebih seksi dengan imbal hasil yang lebih menjanjikan dibandingkan produk investasi konvensional. Namun sebagai investor, Anda juga dituntut untuk paham atas proses dan risiko yang dihadapi dalam investasi pendanaan online ini.

 

Boy Hazuki Rizal, Biro Perencana Keuangan Rizal Planner & Rekan




Kirim Komentar Anda