l Dorong Anak Jadi Pelopor Antiperundungan | Investor Daily
ID Logo
Selamat datang Tamu   |   
Rabu, 24 April 2019
BS logo

Dorong Anak Jadi Pelopor Antiperundungan
Kamis, 11 April 2019 | 15:51

Kekerasan pada anak. Foto ilustrasi: IST Kekerasan pada anak. Foto ilustrasi: IST

Kasus penganiayaan dan perundungan terhadap siswi SMP oleh belapadian tunggal. Hal ini merupakan sebuah fenomena kasuistik, di mana orang tua secara tidak sadar menanamkan perilaku tersebut ke anak sejak kecil.

Saya sependapat dengan pendapat psikolog yang mengatakan bahwa peran orang tua dalam tumbuh kembang anak di lingkungannya memainkan peranan penting dalam membentuk anak, apakah akan menjadi seorang perundung atau tidak.

Sangat mungkin, anak terekspos perundungan juga, semisal melihat orang tua memarahi orang, dan anak menjadi peniru. Atau ketika anak marah, tidak diarahkan oleh orang tua bagaimana cara yang benar untuk mengelola amarahnya.

Jadi poin penting lainnya, banyak kasus perundungan yang terjadi di sekolah tidak secara otomatis bisa dikatakan bahwa institusi pendidikan jadi sumber permasalahan.

Pangkal masalah sesungguhnya adalah di rumah, lingkungan tempat anak tinggal, dan sekolah menjadi media penyaluran agresi anak melakukan perundungan.

Tentu, kita tetap harus menghormati proses penyidikan kasus perundungan terhadap siswa SMP di Pontianak itu. Sehingga tidak terjadi persepsi yang salah terkait pelaku maupun korban.

Satu hal lagi, belajar dari kasus ini, sudah selayaknya pula mendorong anak menjadi pelopor dan pelapor untuk mencegah aksi perisakan atau penindasan di sekolah. Siswa-siswi perlu dibekali diri sebagai agen antiperisakan di sekolah masing-masing.

Perisakan di kalangan anak telah menjadi persoalan yang terjadi di mana-mana dan harus disikapi secara serius. Dengan melibatkan langsung anak dalam pencegahan perisakan, akan jauh lebih efektif ketimbang dilakukan orang dewasa.

Dari beberapa kasus yang menimpa anak, biasanya mereka akan lebih terbuka bercerita kepada teman ketimbang kepada guru atau orang tua.

Henri Purnama

Jakarta




Kirim Komentar Anda