l Bunga Kredit Single Digit | Investor Daily
ID Logo
Selamat datang Tamu   |   
Kamis, 21 Maret 2019
BS logo

Bunga Kredit Single Digit
Selasa, 12 Maret 2019 | 9:32

Suku bunga kredit single digit yang diidam-idamkan dunia usaha dan dijanjikan pemerintah sejak dua tahun silam, tak kunjung terwujud. Penyebabnya, Bank Sentral AS (The Fed) terus menaikkan suku bunga acuan Fed funds rate (FFR) untuk menstimulasi perekonomian domestiknya yang sedang terjebak dalam zona perlambatan.

Saat Presiden Jokowi dan Wakil Presiden (Wapres) Jusuf Kalla ‘menekan’ Bank Indonesia (BI) agar menurunkan BI 7-day Reverse Repo Rate (BI 7-DRRR) supaya perbankan memangkas suku bunga kredit ke level single digit, FFR masih berada di level 0-0,25%. Sedangkan BI 7-DRRR (saat itu masih BI rate) berada di posisi 5,50%.

‘Permintaan’ pemerintah kepada BI soal suku bunga disampaikan secara terbuka pada Februari 2016. Dua bulan kemudian, The Fed menaikkan suku bunga acuan ke level 0,25-0,50%. Itulah untuk pertama kalinya dalam tujuh tahun, The Fed menaikkan FFR.

Sejak itu pula, The Fed menaikkan FFR bertahap hingga level 2,25-2,50%. Bank Sentral AS pernah mematok tinggitinggi suku bunga acuan di level 5,25% pada 2006, kemudian menurunkannya bertahap sejak 2007, hingga menyentuh level terendah 0-0,25% pada akhir 2008.

Tiga bulan setelah pemerintah melontarkan wacana pentingnya suku bunga kredit single digit, atau pada Juni 2016, BI menurunkan BI rate menjadi 5,25%. Pada September 2016, BI kembali menurunkan BI 7-DRRR (BI rate diganti BI 7-DRRR sejak Agustus 2016) ke level 5%.

Sebulan kemudian, suku bunga acuan dipangkas menjadi 4,75%. BI, sejak itu, konsisten memangkas suku bunga acuan. Pada Agustus 2017, BI 7-DRRR turun lagi menjadi 4,50%. Suku bunga acuan kembali turun menjadi 4,25% pada September 2017 yang merupakan level terendah sepanjang sejarah. Namun, pada Mei 2018, BI 7-DRRR kembali dinaikkan menjadi 4,50%, untuk selanjutnya naik bertahap ke level 6% pada November 2018 hingga sekarang.

BI berbalik arah mengubah rezim bunga rendah menjadi rezim bunga tinggi sebagai respons atas kebijakan The Fed yang terus menaikkan suku bunga acuan. Tahun lalu, Bank Sentral AS menaikkan empat kali FFR dari 1,50- 1,75% menjadi 2,25-2,50% yang bertahan hingga kini.

Kenaikan FFR memicu gonjang-ganjing di pasar finansial global. Dana-dana asing di emerging markets, termasuk Indonesia, tersedot ke AS. Hasilnya, nilai tukar rupiah melemah 6,4%, indeks harga saham gabungan (IHSG) rontok 2,54%, dan investor asing di pasar saham mencatatkan penjualan bersih (net sell) Rp 50,75 triliun.

Untuk menyelamatkan rupiah dan membendung arus modal keluar (capital outflow), BI mau tidak mau memang harus menaikkan BI 7-DRRR. Dengan begitu, suku bunga di dalam negeri tetap menarik yang pada gilirannya diharapkan mampu mengerem pelarian modal (capital flight).

Apakah itu berarti keinginan pemerintah agar perbankan mematok suku bunga kredit single digit sudah tidak relevan? Momentum rezim suku bunga rendah mungkin sudah lewat, terutama setelah The Fed menaikkan FFR hingga empat kali sepanjang tahun lalu. Namun, bukan berarti harapan untuk menikmati suku bunga kredit single digit sudah padam.

Tahun ini, The Fed diperkirakan hanya menaikkan FFR dua kali. Bahkan, belakangan ini muncul analisis baru bahwa FFR pada 2019 kemungkinan tidak naik sama sekali. Perkiraan itu didasarkan pada data-data ekonomi AS yang belum sesuai harapan, seperti pertumbuhan ekonomi, inflasi, penyerapan tenaga kerja, ekspor, dan indeks manufaktur.

Meski kemungkinannya kecil, peluang bagi The Fed untuk tidak menaikkan suku bunga acuan masih terbuka. Itu karena The Fed juga sedang berupaya menggunakan instrumen lain untuk menyedot likuiditas di pasar, misalnya merampingkan neraca keuangannya dengan cara melepas surat-surat berharga ke pasar.

Perkiraan bahwa The Fed tahun ini kemungkinan tidak menaikkan FFR –jika terbukti benar-- bisa menjadi ‘darah baru’ bagi perekonomian nasional. Posisi FFR yang stagnan tahun ini bisa menjadi angin segar bagi sektor riil. Juga bisa menjadi sumber sentimen positif bagi pasar finansial.

Dengan posisi FFR yang terkunci di level 2,25-2,50%, pasar finansial akan bergerak lebih tenang dan terukur. Pasar saham dan valas tidak akan bergejolak seperti tahun silam. Para fund manager global bisa lebih nyaman memompakan kembali dana-dananya ke luar AS, sehingga nilai tukar negara-negara emerging markets menguat dan stabil.

Sektor riil akan ikut menikmati ‘berkah’ FFR yang tidak naik, apalagi bila sampai turun. Dengan probabilitas FFR yang stagnan, BI diharapkan tidak menaikkan BI 7-DRRR. Bahkan, BI punya kesempatan untuk menurunkan suku bunga acuan ke level yang lebih ramah sektor riil. bunga kredit ke level single digit laksana oase di gurun pasirbagi dunia usaha. Terlebih pada era rezim bunga rendah atau saat BI 7-DRRR berada di level 4,25% pun, perbankan belum bersedia menerapkan bunga kredit single digit dengan alasan transmisi penurunan BI 7-DRRR ke bunga kredit membutuhkan waktu lama.

Dengan posisi BI 7-DRRR saat ini, sektor riil kesulitan mendapatkan kredit dengan suku bunga terjangkau. Bank-bank nasional masih menerapkan bunga kredit modal kerja (KMK), kredit investasi (KI), dan kredit konsumsi (KI) di atas 10%. Padahal, bila sektor riil berputar lebih kencang, pertumbuhan ekonomi nasional melaju lebih cepat. Angka kemiskinan dan pengangguran dapat turun signifikan.

Menurunkan suku bunga acuan ke level yang lebih probisnis tidak boleh ditabukan. Apalagi jika dikaitkan dengan tekad pemerintah dan BI untuk menjaga inflasi tetap rendah, mengatasi defisit neraca transaksi berjalan (current account deficit/CAD), mengawal penguatan rupiah, menggenjot ekspor, dan meningkatkan investasi langsung. (*)




Kirim Komentar Anda