l Cegah Repatriasi Profit Asing | Investor Daily
ID Logo
Selamat datang Tamu   |   
Kamis, 21 Maret 2019
BS logo

Cegah Repatriasi Profit Asing
Jumat, 15 Maret 2019 | 8:17

Teller menghitung lembaran dolar AS di salah satu konter sebuah bank di Jakarta. Foto ilustrasi: Investor daily/DAVID GITA ROZA Teller menghitung lembaran dolar AS di salah satu konter sebuah bank di Jakarta. Foto ilustrasi: Investor daily/DAVID GITA ROZA

Musuh terbesar ekonomi kita adalah kurs rupiah yang tak stabil, yang menjadi hambatan utama masuknya investasi. Ketidakpastian nilai tukar ini membuat investor tak bisa mengalkulasi rencana-rencana bisnisnya. Itulah sebabnya, gejolak rupiah tahun lalu membuat banyak investor memilih wait and see. Asing pun banyak membelokkan investasinya ke negara lain dan investasi masuk ke Indonesia anjlok, baik secara langsung (FDI) maupun di portofolio.

Ketidakstabilan rupiah yang menghambat investasi tersebut harus menjadi urgensi pemerintah untuk segera diselesaikan. Salah satu cara yang efektif untuk membantu stabilisasi rupiah adalah menahan agar keuntungan investasi asing di Indonesia bisa kembali diinvestasikan di negeri ini.

Selama ini, repatriasi profit yang dilakukan investor asing dari hasil berbisnis memanfaatkan pasar Indonesia sangat besar. Tahun lalu, repatriasi profit mencapai US$ 16,1 miliar. Padahal, sebagian besar penanaman modal asing (PMA) yang masuk ke pasar domestik ini pendapatannya dalam rupiah, namun mereka membawa keluar keuntungannya dalam bentuk dolar. Akibatnya, dolar di dalam negeri semakin menipis dan rupiah bergejolak, di tengah sentimen kenaikan suku bunga The Fed Amerika Serikat yang membuat dana asing keluar dari emerging markets, termasuk Indonesia.

Kurs rupiah bahkan sempat tembus Rp 15.237 per dolar AS Oktober 2018 dan sepanjang tahun lalu terdepresiasi sekitar 6,89%. Tahun ini nilai tukar rupiah sedikit membaik ke posisi Rp 14.253 per dolar AS per 14 Maret 2019, setelah The Federal Reserve (The Fed) kemungkinan tak lagi menaikkan suku bunganya. Tahun lalu, bank sentral AS agresif menaikkan Fed funds rate (FFR) empat kali atau total 100 bps menjadi hingga 2,5%, yang membuat Bank Indonesia harus merespons untuk stabilisasi rupiah dan meredam dana keluar dengan menaikkan BI 7-day reverse repo rate (BI-7 DRRR) 175 bps menjadi 6%.

Keuntungan lain jika profit investor asing US$ 16,1 miliar itu bisa tetap ditahan di Indonesia dan diinvestasikan kembali, maka nantinya bisa mengurangi impor maupun mendongkrak ekspor. Artinya, neraca perdagangan kita bisa kembali surplus dan membantu memperkecil deficit transaksi berjalan, meski current account deficit (CAD) yang saat ini mendekati 3% dari produk domestik bruto (PDB) sebenarnya masih posisi aman.

Kita punya sejarah saat pemerintahan Presiden Soeharto, CAD bisa mencapai 5% PDB tetapi di saat yang sama rupiah tetap terjaga. Sebab, defisit saat itu bisa ditutup dengan banyaknya dana dari Penanaman Modal Asing. Artinya, kondisi CAD saat ini yang mendekati 3% PDB masih oke, asalkan kita bisa mencegah atau setidaknya meredam repatriasi profit besar-besaran.

Upaya ini harus dilakukan dari semua lini, baik di investasi langsung (foreign direct investment/FDI) maupun portofolio. Upaya pertama adalah memberlakukan pemberian disinsentif dan insentif untuk FDI, di mana investor tak bisa begitu saja membawa pulang pabrik yang sudah dibangun di sini. Disinsentif untuk FDI ini bisa dalam bentuk pengenaan pajak untuk repatriasi profitnya.

Sebaliknya, jika pemodal asing ini mau mengembalikan keuntungannya untuk investasi di dalam negeri, mereka mendapat insentif yang menarik. Di sisi lain, insentif ini juga jangan cuma diberikan kepada investor asing, namun juga pengusaha dalam negeri yang sudah setia mendukung ekonomi kita di saat asing banyak kabur karena gejolak global. Namun demikian, untuk investasi di pasar modal, cara robin tax (arus modal jangka pendek dikenai pajak dan yang jangka panjang tidak dikenai pajak supaya modal asing tetap bertahan) itu tidak bisa diberlakukan. Pasalnya, kalau itu dilakukan di capital market dengan repatriasi profit kena pajak, maka investor nggak akan ada yang mau masuk.

Di pasar modal ini, pemerintah bisa menjalankan apa yang dikenal sebagai reverse robin tax. Skema reverse robin tax perlu dijalankan untuk mengurangi jumlah devisa keluar dari pasar keuangan di Tanah Air. Ini misalnya, jika keuntungan dari perusahaan yang sebelumnya dibawa keluar melalui repatriasi profit bisa digunakan untuk investasi lagi di dalam negeri, maka pemerintah memberikan double deduction untuk mengurangi kewajiban membayar pajak perusahaan tersebut.

Cara kedua, dengan memperdalam pasar keuangan RI. Upaya ini dilakukan tak hanya dengan memperbanyak produk, namun juga memperbanyak investor. Hal ini membuat investor memiliki banyak pilihan investasi yang lebih sesuai dengan kebutuhan dan nyaman dengan likuiditas pasar yang lebih besar. Jumlah investor di pasar modal kita yang sekarang ini sekitar 2 juta harus terus didongkrak. Ketiga, insentif juga harus diberikan kepada pengelola dana jangka panjang yang besar, seperti pengelola dana pensiun. Ini misalnya, pajaknya nol untuk investasi mereka di saham dan obligasi, sehingga porsi investasi di instrumen pasar modal bisa diperbesar.

Selain menjaga stabilitas kurs rupiah terhadap dolar AS, masalah-masalah lain juga harus diselesaikan untuk mendorong investasi masuk lebih banyak. Ini terutama mencakup perbaikan regulasi ketenagakerjaan yang masih menjadi keluhan pertama yang menghambat aliran masuk FDI.

Masalah lain yang harus dibereskan adalah suku bunga yang masih tinggi di Indonesia. Oleh karena itu, BI tidak perlu menaikkan lagi suku bunga tahun ini untuk mendorong investasi, mengingat The Fed kemungkinan juga tak menaikkan suku bunganya atau kalau pun naik hanya satu kali sebesar 25 bps.

PR lain adalah mengendalikan tingkat inflasi. Inflasi harus bisa dijaga agar tidak lebih dari 3,5%, dengan antara lain menjaga stabilitas pasokan dan harga pangan. Selain itu, pemerintah harus bisa memberikan kepastian hukum bagi investor. Pemerintah harus bisa menjamin adanya kepastian hukum ini hingga ke daerah dan dalam jangka panjang, tak peduli siapa pun yang menjadi presiden ke depan.

Dengan pemerintah bersama otoritas yang lain bahu-membahu menyelesaikan masalah tersebut, maka investasi ke depan dipastikan meningkat dan rupiah aman. Pertumbuhan ekonomi kita bakal membaik ke 6% atau lebih, lepas dari perangkap hanya sekitar 5% yang kita alami beberapa tahun terakhir ini. (*)




Kirim Komentar Anda