l CEPA RI-Australia | Investor Daily
ID Logo
Selamat datang Tamu   |   
Kamis, 21 Maret 2019
BS logo

CEPA RI-Australia
Selasa, 5 Maret 2019 | 9:13

Indonesia dan Australia resmi menandatangani Perjanjian Kemitraan Ekonomi Komprehensif atau Comprehensive Economic Partnership Agreement (IA-CEPA), Senin (4/3). Perjanjian yang diteken di Jakarta oleh Menteri Perdagangan RI Enggartiasto Lukita dan Menteri Perdagangan, Pariwisata, dan Investasi Australia Simon Birmingham itu diharapkan akan memberikan banyak manfaat bagi kedua negara. Australia merupakan negara tujuan ekspor nonmigas ke-17 dan negara sumber impor nonmigas ke-8 bagi Indonesia.

Total nilai perdagangan Indonesia-Australia mencapai US$ 8,6 miliar pada 2018, dengan ekspor Indonesia tercatat senilai US$ 2,8 miliar dan impor sebesar US$ 5,8 miliar, sehingga Indonesia mengalami deficit US$ 3 miliar.

Produk ekspor utama Indonesia ke Australia pada 2018 adalah petroleum (US$ 636,7 juta), kayu dan furnitur (US$ 214,9 juta), panel LCD, LED, dan panel display lainnya (US$ 100,7 juta), alas kaki (US$ 96,9 juta), dan ban (US$ 61,7 juta). Sedangkan produk impor utama Indonesia dari Australia adalah gandum (US$ 639,6 juta), batu bara (632 juta), hewan hidup jenis lembu (US$ 573,9 juta), gula mentah atau tebu lainnya (US$ 314,7 juta), serta bijih besi dan bijih lainnya (US$ 209,3 juta).

Bagi Indonesia, perjanjian ini akan membebaskan tarif barang 100% untuk 6.474 pos tarif yang masuk ke pasar Australia. Sedangkan tarif barang dari Australia ke Indonesia dibebaskan sebesar 94%. Berkat perjanjian ini, tarif impor gula rafinasi atau gula untuk industri turun dari sebelumnyadi kisaran 10% menjadi 5%. Hal ini berdampak positif kepada industri makanan dan minuman (mamin) Indonesia karena memberikan alternatif suplai gula. Australia adalah pemasok sekitar 20% dari total impor gula Indonesia. Dengan adanya penurunan tarif impor gula, diharapkan biaya produksi mamin akan jauh lebih bersaing.

Tidak hanya mendapatkan pasokan bahan baku yang murah, CEPA Indonesia- Australia juga akan membentuk sebuah rantai pasok global (global value chain) industri mamin. Indonesia akan mampu meningkatkan nilai tambah dari bahan baku impor asal Australia, yang nantinya diperdagangkan kembali ke Australia dan mitra dagangnya.

Melalui CEPA ini pula sejumlah produk Indonesia berpotensi meningkat ekspornya, contohnya produk otomotif khusus mobil listrik dan hibrid. IA-CEPA memberikan persyaratan kualifikasi konten lokal (QVC) yang lebih mudah untuk kendaraan listrik dan hibrid asal Indonesia dibandingkan negara lainnya. Hal ini membuat industry otomotif Indonesia lebih berdaya saing dalam mengekspor kendaraan listrik dan hibrid ke Australia.

Tidak hanya di bidang perdagangan, perjanjian kemitraan ekonomi ini juga mencakup investasi dan jasa di bidang kesehatan, pendidikan, pertanian, dan energi. Adapun investasi Australia di Indonesia pada 2018 mencapai US$ 597,4 juta dengan 635 proyek terdiri atas lebih dari 400 perusahaan Australia yang beroperasi di berbagai sektor seperti pertambangan, pertanian, infrastruktur, keuangan, kesehatan, makanan, minuman, dan transportasi.

Keuntungan lainnya dari perjanjian ini adalah, Australia menambah kuota visa bagi tenaga kerja Indonesia hingga 5.000 orang. Kuota visa untuk tenaga kerja dan berlibur saat ini hanya berjumlah 1.000 orang. Kemudian di tahun pertama ditargetkan meningkat menjadi 4.100 orang. Adapun kenaikan rata-rata diharapkan sebanyak 5% per tahun hingga kuota visa bekerja dan berlibur mencapai 5.000 orang per tahun. Indonesia juga akan mendapatkan berbagai program peningkatan kualitas sumber daya manusia (SDM) seperti program magang yang dibuat berdasarkan kebutuhan sektor industri dan ekonomi Indonesia yang berkaitan langsung dengan investasi Australia di sektor pendidikan kejuruan.

Program ini menyediakan 200 visa magang untuk sembilan sektor prioritas, yaitu pendidikan, pariwasata, telekomunikasi, pengembangan infrastruktur, kesehatan, energi, pertambangan, jasa keuangan, teknologi informasi dan komunikasi (TIK). Selanjutnya, program pertukaran tenaga kerja antarperusahaan Indonesia-Australia melalui Kamar Dagang dan Industri (Kadin) atau Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo), serta peningkatan standar profesi Indonesia yang akan dimulai dengan adanya kesepakatan terkait pengakuan pada profesi teknisi dan insinyur. IA-CEPA harus mendapatkan ratifikasi atau pengesahan dari masing-masing parlemen kedua negara sebelum bisa diberlakukan.

IA-CEPA merupakan perjanjian dagang bilateral ke-5 yang ditandatangani Indonesia dalam tiga tahun terakhir, setelah Indonesia-Chile CEPA (Desember 2017), Preferensi unilateral Indonesia-Palestina (Desember 2017), pengkajian ulang perjanjian perdagangan preferensial Indonesia- Pakistan (Januari 2018), dan Indonesia- European Free Trade Association CEPA (November 2018).

Kita berharap CEPA ini dapat menguntungkan Indonesia. Barang-barang Indonesia akan memiliki daya saing lebih tinggi dibandingan barang sejenis dari Negara lain yang juga sama-sama memperebutkan pasar Australia. Kedua negara juga dapat berkontribusi lebih besar pada global value chain untuk memasok kebutuhan global. Namun demikian, sesuai asas resiprositas, perjanjian ini juga memberikan peluang kepada barang-barang dan jasa Australia yang masuk ke Indonesia mendapatkan penurunan tarif dan kemudahan.

Dalam konteks ini, kita juga mengingatkan pemerintah agar jangan sampai setelah perjanjian ini ditandatangani akan membuat deficit neraca perdagangan nonmigas Indonesia dengan Australia semakin besar. Kondisi tersebut terjadi setelah Indonesia menandatangani perjanjian dagang dengan Tiongkok dalam kerangka Asean- China Free Trade Agreement (FTA) yang mulai berlaku pada Januari 2010. Nilai impor Indonesia dari Tiongkok terus membengkak.

Pada 2010, tahun pertama pemberlakuan Asean-China FTA, neraca dagang nonmigas Indonesia tercatat deficit sebesar US$ 5,61 miliar dengan Tiongkok. Namun pada 2018 menembus angka US$ 20,85 miliar Dari sisi Australia, CEPA ini akan meningkatkan daya saing produk mereka. Para petani hortikultura Australia akan menikmati pembebasan tarif dan kuota, yang artinya akan lebih banyak lagi produk pertanian Negeri Kanguru itu membanjiri pasar Indonesia.

Sementara bagi produk manufaktur Australia, misalnya baja batangan, akan bisa mengirimkan lebih banyak produknya ke Indonesia. Seperti dikatakan Menteri Perdagangan, Pariwisata, dan Investasi Australia Simon Birmingham, negaranya akan bisa mengirimkan baja sebanyak lima jembatan Sydney Harbour Bridge ke Indonesia setiap tahunnya lewat perjanjian ini.

Sementara bagi warga Australia yang bekerja atau mempunyai bisnis di bidang pendidikan, layanan kesehatan dan jasa keuangan, serta di bidang komunikasi, perjanjian ini akan membuka peluang bisnis dan pasar yang lebih besar. Indonesia saat ini adalah negara dengan perekonomian 16 besar di dunia, dan diperkirakan akan menjadi negara dengan perekonomian keempat terbesar.

Masih ada waktu bagi Indonesia untuk menelaah kembali CEPA ini sebelum diberlakukan. Jangan sampai perjanjian dagang yang baru ditandatangani ini bernasib sama dengan sejumlah perjanjian dagang sebelumnya, yang harus dievaluasi karena membuat defisit neraca dagang Indonesia terus membengkak. Secara kumulatif sepanjang 2018 defisit dagang Indonesia mencapai US$ 8,57 miliar. Sedangkan pada Januari 2019 mencatatkan defisit sebesar US$ 1,16 miliar.

Kehadiran perjanjian dagang semestinya memberi daya dorong bagi ekspor Indonesia sehingga dapat mengurangi defisit neraca dagang yang kian parah. Pada tahun ini, pemerintah hanya menargetkan ekspor nonmigas tumbuh 7,5%, lebih rendah dari target tahun 2018 sebesar 11%. (*)




Kirim Komentar Anda