l Jawara Kapitalisasi Pasar | Investor Daily
ID Logo
Selamat datang Tamu   |   
Rabu, 24 April 2019
BS logo

Jawara Kapitalisasi Pasar
Rabu, 20 Maret 2019 | 5:47

Sektor perbankan masih merajai Top 10 Market Cap di Bursa Efek Indonesia, disusul industri barang konsumsi. Kedua sektor itu memang layak berada di puncak, di tengah dominasi perbankan sebagai sumber pembiayaan di Tanah Air dan tingginya kontribusi konsumsi rumah tangga terhadap produk domestik bruto. Ini juga didukung pertumbuhan ekonomi kita yang diproyeksikan membaik, kendati ada tekanan perlambatan pertumbuhan global maupun perang dagang.

Hingga 19 Maret 2019, emiten dengan market cap terbesar adalah Bank Central Asia senilai Rp 671,23 triliun. Kapitalisasi pasar bank swasta yang sahamnya banyak dikuasai asing ini mencapai 9,11% dari total market cap 625 emiten di Bursa Efek Indonesia (BEI).

Berikutnya yang masuk daftar 10 besar adalah Bank Rakyat Indonesia (Persero), HM Sampoerna, Unilever Indonesia, Telekomunikasi Indonesia (Persero), Bank Mandiri (Persero), Astra International, Gudang Garam, Bank Negara Indonesia (Persero), dan Charoen Pokphand Indonesia.

Dari daftar itu, sebanyak empat emiten berasal dari perbankan, tiga dari industri barang konsumsi, dan sisanya dari sektor aneka industri; industri dasar dan kimia; serta infrastruktur, utilitas, dan transportasi.

Total market cap 10 emiten papan atas itu menembus Rp 3.452,33 triliun atau 46,85% dari total kapitalisasi pasar di BEI sebesar Rp 7.369,31 triliun, sehingga dipastikan menjadi penentu pergerakan pasar modal kita. Kapitalisasi pasar para jawara itu meningkat dibanding tahun lalu Rp 3.349,91 triliun, dari total market cap Rp 7.023,50 triliun.

Pertumbuhan kapitalisasi pasar di bursa Indonesia itu mengindikasikan harga-harga saham maupun kepercayaan investor yang meningkat. Selain karena berkurangnya sentimen negatif global sejalan kebijakan The Fed yang kemungkinan tak lagi menaikkan suku bunga Amerika Serikat tahun ini, penguatan harga saham didukung prospek kinerja emiten yang bagus dan proyeksi perbaikan pertumbuhan ekonomi di dalam negeri.

Di industri perbankan, prospeknya yang cerah tahun ini sudah terlihat dari menguatnya data-data di awal tahun. Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mencatat, kredit perbankan pada Januari 2019 tumbuh meyakinkan sebesar 11,97% secara tahunan (year on year/yoy). Angka itu lebih tinggi dari pertumbuhan kredit Januari 2018 dan Desember 2018, yang masing-masing 7,40% dan 11,75% (yoy). Sedangkan dana pihak ketiga (DPK) yang dihimpun tumbuh 6,39%.

Dengan tren pertumbuhan kredit yang pesat itu, kalangan bankir optimistis kinerja perbankan tahun ini lebih menjanjikan dibanding tahun lalu. Pada 2018, perbankan berhasil mencetak laba bersih Rp 150,01 triliun atau melonjak 14,38%.

Kinerja cemerlang industri ini didukung ekspansi penyaluran kredit yang menembus 11,75% hingga akhir 2018, menjadi Rp 5.294,88 triliun, dengan masih membukukan margin bunga bersih (net interest margin/NIM) 5,14%. Rasio kredit bermasalah (non performing loan/NPL) gross juga bisa ditekan ke 2,37%, sedangkan rasio penyaluran kredit terhadap DPK sebesar 94,78%.

Industri barang konsumsi juga diperkirakan bangkit tahun ini, sejalan dengan meningkatnya konsumsi dan kucuran dana ke masyarakat di tahun politik. Menjelang pilpres dan pileg yang digelar serentak pada April mendatang, bantuan-bantuan sosial meningkat, demikian pula transfer ke daerah maupun dana desa/kelurahan deras dikucurkan.

Tak heran, konsumsi rumah tangga diproyeksikan kembali tumbuh baik tahun ini, menjadi sekitar 5,2%. Konsumsi ini masih menjadi tulang punggung produk domestik bruto (PDB) kita, dengan kontribusi mencapai 56,01%.

Ditambah dengan pertumbuhan investasi yang diperkirakan masih tetap tinggi, pertumbuhan ekonomi Indonesia pada 2019 diperkirakan menguat ke 5,2-5,4%, dibanding realisasi tahun lalu 5,17%. Investasi ini terutama ditopang oleh pembangunan berbagai proyek infrastruktur, properti, dan investasi nonbangunan.

Investasi merupakan kontributor terbesar kedua terhadap PDB nasional, sekitar 33,84%, dan berikutnya adalah konsumsi pemerintah 12,09%. Sedangkan ekspor kita masih di bawah impor yang menjadi pengurang PDB.

Faktor-faktor positif ini tak hanya berpotensi besar mengerek kinerja maupun harga saham 10 emiten papan atas tersebut. Kinerja dan harga saham emiten lain di sektornya atau yang terkait juga bakal membaik, yang meliputi perbankan, industri barang konsumsi, infrastruktur dan konstruksi, otomotif yang kini ekspornya meningkat, hingga media, periklanan, dan printing.

Momentum positif di pasar modal ini tentunya perlu didukung pemetrintah maupun otoritas yang lain, dengan memperbaiki iklim investasi dan kepercayaan investor.

Ini misalnya, Bank Indonesia, OJK, dan pemerintah makin bersinergi untuk menjaga stabilitas rupiah, dengan memperdalam pasar keuangan Indonesia, meningkatkan likuiditas, serta memperbanyak investor yang sekarang baru sekitar 2,1 juta, sehingga dana asing betah tinggal lama.

Selain itu, memperbaiki regulasi ketenagakerjaan, menciptakan kepastian hukum hingga ke daerah dan jangka panjang, plus insentif pajak menarik untuk keuntungan yang diinvestasikan kembali di dalam negeri. (*)




Kirim Komentar Anda