l Menjaga Stabilitas Makro | Investor Daily
ID Logo
Selamat datang Tamu   |   
Rabu, 24 April 2019
BS logo

Menjaga Stabilitas Makro
Senin, 15 April 2019 | 7:54

Memacu pertumbuhan ekonomi tinggi di tengah kondisi global yang tidak menentu bisa menimbulkan instabilitas ekonomi makro. Apa gunanya laju pertumbuhan ekonomi dipacu hingga di atas 6%, tapi inflasi membengkak hingga di atas 6% dan pertumbuhan tinggi hanya dinikmati segelintir masyarakat?

Dalam empat tahun terakhir, laju pertumbuhan ekonomi Indonesia sekitar 5% lebih, sedang inflasi rata-rata hanya 3,3% setahun. Inflasi sempat mencapai 8,38% tahun 2013 dan 2014 sebesar 8,36%. Namun, pada tahun 2015, inflasi hanya meningkat 3,36%. Pada tahun-tahun berikut, inflasi selalu di bawah 3,5% kecuali tahun 2017 sebesar 3,61%.

Laju per tumbuhan ekonomi dalam empat tahun terakhir, 2015- 2018, tak pernah menembus 5,2%. Capaian tertinggi adalah tahun 2018 ketika laju pertumbuhan ekonomi 5,17%. Pada tahun 2015, laju pertumbuhan ekonomi hanya sebesar 4,79%.

Di tengah laju pertumbuhan ekonomi dunia sekitar 3,0-3,8%, pertumbuhan ekonomi sekitar 5% yang dicapai Indonesia cukup bagus. Apalagi dalam perkembangan terakhir terlihat tren positif. Jauh lebih baik bila pertumbuhan ekonomi berjalan stabil dan berkelanjutan daripada pertumbuhan ekonomi tinggi tapi tidak stabil.

Laju pertumbuhan ekonomi 5% sudah cukup bagus selama itu inklusif. Selama pertumbuhan ekonomi merata, terjadi di berbagai sector dan dinikmati seluruh lapisan masyarakat, angka 5% sudah memadai. Penurunan angka kemiskinan dan pengangguran mengonfirmasi bahwa pertumbuhan ekonomi Indonesia dalam empat tahun terakhir cukup berkualitas.

Angka penduduk miskin absolut di Indonesia sudah mencapai single digit, yakni 9,66% atau 25,67 juta per September 2018. Sedang pengangguran terbuka sudah turun ke 5,5% atau 7 juta. Pada September 2014, angka kemiskinan 10,96% atau 27,73 juta orang. Sementara angka pengangguran pada Agustus 2014 sebesar 5,94% atau 7,24 juta. Dalam pada itu, rasio Gini, indikator pemerataan, turun dari 0,41 tahun 2014 ke 0,39 tahun 2018.

Selama empat terakhir terjadi gejolak rupiah akibat faktor eksternal. Pada tahun 2015 dan 2018, rupiah mengalami guncangan akibat kebijakan bank sentral AS. Tapi, secara umum, indikator utama ekonomi Indonesia --inflasi, suku bunga, dan kurs rupiah-- relatif stabil. Ini semua berkat pengelolaan fiskal dan moneter yang prudent. Andaikan kondisi fiskal Indonesia buruk dan otoritas moneter salah mengambil keputusan, kondisi ekonomi makro akan mengalami instabilitas.

Suatu hal yang sangat menonjol dari kebijakan pemerintah empat tahun terakhir adalah upaya mewujudkan keadilan sosial. Pemerintah memberlakukan one price policy untuk harga BBM bagi sesame saudara sebangsa yang ada di Papua dan wilayah terpencil. Harga BBM subsidi dan tarif listrik tidak dinaikkan guna mempertahankan daya beli rakyat.

Laju pertumbuhan ekonomi tinggi, di atas 6% bahkan 7%, sangat diperlukan. Tapi, laju pertumbuhan ekonomi yang hanya dinikmati kalangan atas hanya akan menimbulkan kesenjangan dan ketimpangan. Pemerintah membangun infrastruktur di luar Jawa meski kegiatan ekonomi tidak sebesar di Jawa guna menarik minat investasi.

Diharapkan, pembangunan infrastruktur fisik --terutama infrastruktur dasar, seperti air bersih, infrastruktur transportasi, energi, dan telekomunikasi-- mampu menarik minat investasi. Pemerintah pun tengah membangun kawasan ekonomi khusus (KEK) di luar Jawa, untuk menarik investasi. KEK dan ketersediaan infrastruktur akan menarik investor membangun usaha di luar Jawa. Dengan infrastruktur yang lebih siap dan pelayanan birokrasi yang semakin baik, industrialisasi akan berjalan lebih cepat. Pemerintah harus memastikan bahwa ke depan, ekspor Indonesia harus didominasi produk olahan atau minimal produk setengah jadi. Tren deindustrialisasi perlu segera dihentikan. Pabrik pengolahan hasil pertanian dan perkebunan harus dibangun di setiap sentra produksi.

Dalam pada itu, lima sektor usaha yang sudah dicanangkan pemerintah harus benar-benar didorong. Kelima sektor itu adalah industri makanan dan minuman, industri tekstil dan produk tekstil, industri elektronika, industriotomotif, dan industri petrokimia. Kelima industri ini, semuanya, berorientasi ekspor.

Pembangunan industri pengolahan dan kelima sektor industri ini diharapkan mampu meningkatkan ekspor Indonesia. Ke depan, negeri ini tak boleh lagi didera defisit neraca perdagangan. Paralel dengan upaya mendongkrak ekspor, Indonesia perlu meningkatkan surplus bidang jasa guna menekan current account deficit (CAD) atau deficit neraca transaksi berjalan.

Di tengah gejolak ekonomi global, stabilitas jauh lebih penting dibanding pertumbuhan tinggi. Dengan ekonomi makro yang stabil dan ketersediaan infrastruktur, ekonomi Indonesia akan berlari lebih kencang pada masa akan datang. (*)




Kirim Komentar Anda