l Mimpi Bandara Soetta | Investor Daily
ID Logo
Selamat datang Tamu   |   
Rabu, 24 April 2019
BS logo

Mimpi Bandara Soetta
Selasa, 9 April 2019 | 8:32

Mimpi bangsa Indonesia untuk memiliki bandara besar, megah, modern, lengkap, bergengsi, dan menjadi rujukan bandara-bandara besar di dunia, bakal segera terwujud. Adalah Bandara Internasional Soekarno-Hatta (Soetta) Cengkareng, Tangerang yang akan membantu mewujudkan mimpi itu.

Bandara Soetta terus berbenah. Bila tak ada aral melintang, bandara terbesar di Tanah Air itu pada 2022 akan menjelma menjadi salah satu bandara berfasilitas terlengkap, terbaik, dan ternyaman di dunia. Bandara Soetta, paling tidak, bakal mengalahkan Bandara Changi Singapura.

Untuk menyulap Bandara Soetta menjadi salah satu bandara terbaik di dunia, PT Angkasa Pura (AP) II (Persero) selaku pengelola akan membangun Terminal 4 Bandara Soetta dengan biaya sekitar Rp 11 triliun. AP II juga akan merevitalisasi Terminal 1 dan 2 serta membangun Runway 3 untuk meningkatkan kapasitas penerbangan dengan total biaya hampir Rp 10 triliun.

Terlepas dari soal gengsi, kapasitas Bandara Soetta memang harus ditambah. Bandara tersibuk di Indonesia itu sudah tak kuasa menampung penumpang yang berjumlah 65 juta per tahun. Bandara Soetta akan semakin ‘sempit’ dalam beberapa tahun mendatang karena jumlah penumpang terus membengkak.

Bandara Soetta kini cuma berkapasitas 43 juta penumpang per tahun, meliputi Terminal 1 dan Terminal 2 yang berkapasitas masing-masing 9 juta penumpang per tahun, serta Terminal 3 dengan kapasitas 25 juta penumpang per tahun. Setelah direvitalisasi, Terminal 1 dan 2 diproyeksikan berkapasitas masing-masing 18 juta penumpang per tahun. Ditambah Terminal 4, kapasitas Bandara Soetta akan mencapai 100-120 juta penumpang per tahun. Sedangkan pergerakan pesawat akan meningkat dari saat ini 81 pesawat per jam menjadi 120 pesawat per jam.

Bandara Soetta sejatinya sudah punya reputasi global. Bandara Soetta menempati peringkat ke-10 dari 50 bandara terbaik dalam Megahubs International Index 2018 versi perusahaan riset penerbangan asal Inggris, AOG. Skytrex, lembaga pemeringkat penerbangan global, juga menempatkan Bandara Soetta di urutan ke-40 daftar 100 bandara terbaik di dunia tahun ini.

Peringkat Bandara Soetta dipastikan terus naik setelah Terminal 4 dibangun atau setelah Terminal 1 dan 2 direvitalisasi. Sebab kelak, selain kapasitasnya bertambah, Bandara Soetta akan lebih besar, lebih megah, lebih modern, lebih lengkap, dan lebih nyaman.

Tentu saja kita berharap Bandara Soetta tidak sekadar megah dan bergengsi. Bandara Soetta juga harus ‘ramah penumpang’ dalam arti mampu memberikanpelayanan maksimum kepada masyarakat pengguna. Bukan cuma pelayanan kualitas wahid para petugas bandara yang siap siaga selama 24 jam, tapi juga pelayanan aksesibilitasnya. Aksesibilitas sungguh penting. Bandara yang memiliki aksesibilitas tinggi memungkinkan para calon penumpang pesawat udara dapat pergi ke atau dari bandara secara cepat, mudah, nyaman, dan aman, kapan saja. Itu sebabnya, bandara mutlak harus terkoneksi dengan berbagai moda transportasi di wilayah sekitarnya.

Gengsi dan kemewahan yang dipancarkan Bandara Soetta jelas tidak ada artinya bila bandara kebanggaan nasional itu sulit diakses. Faktanya, Bandara Soetta belum bisa diakses secara cepat, mudah, nyaman, dan aman oleh masyarakat yang ingin menggunakan jasa penerbangan. Perjalanan menuju atau dari Bandara Soetta akrab dengan perasaan stres dan frustrasi. Sudah menjadi pengalaman yang lazim tatkala para pengguna Bandara Soetta dibuat ‘gila’ oleh kemacetan arus lalu lintas. Juga sudah menjadi pemandangan yang lumrah manakala ada calon penumpang yang tertinggal pesawat garagara terjebak kemacetan. Dari Jakarta yang hanya berjarak sekitar 40 km, Bandara Soetta harus ditempuh dalam waktu 2-3 jam, bahkan saat kemacetan mencapai puncaknya bisa 4-5 jam.

Dalam konteks ini, Bandara Soetta tidak berdiri sendiri. PT AP II bukan satu-satunya pihak yang bertanggung jawab. Seluruh kementerian/lembaga (K/L), BUMN, dan pihak terkait lainnya harus bergerak bersama. Apalagi tantangan yang dihadapi Bandara Soetta dan industri penerbangan nasional ke depan semakin kompleks.

Akses transportasi ke Bandara Soetta, semakin lama, dipastikan semakin terbatas sejalan dengan meningkatnya kemacetan arus lintas, baik di jalan tol maupun di jalan reguler. Itu karena jumlah kendaraan bermotor yang tumbuh rata-rata 15% per tahun tak diimbangi oleh penambahan jalan.

Langkah pemerintah membangun dan mengoperasikan Kereta Api (KA) Bandara patut diacungi jempol. Namun, KA Bandara belum menjadi jawaban konkret karena rutenya masih sangat terbatas. KA Bandara baru bisa diakses dari Stasiun Manggarai, sehingga tidak banyak membantu masyarakat di luar Jakarta, terutama Bogor, Depok, Tangerang, dan Bekasi (Bodetabek). Bandara Soetta juga tidak sesuai kantong masyarakat kebanyakan. Harga tiketnya yang Rp 70 ribu sekali jalan dianggap terlampau mahal.

Masyarakat lebih memilih Bus Bandara yang punya banyak halte di wilayah Bodetabek. Terlebih tarif Bus Bandara lebih murah, rata-rata Rp 40 ribu, hampir separuh tariff KA Bandara. Jangan heran jika tingkat keterisian penumpang (load factor) KA Bandara cuma 26% meski sudah setahun lebih beroperasi. Agar KA Bandara mudah diakses (accessible), kita mendorong supaya titik keberangkatan ke KA Bandara diperbanyak. Masyarakat Debotabek harus bisa langsung ke Bandara Soetta tanpa transit terlebih dahulu di Stasiun Manggarai menggunakan KRL Commuter Line.

Kita juga mendorong supaya pemerintah menurunkan tarif KA Bandara. Bila tarif mass rapid transit (MRT) dan light rail transit (LRT) disubsidi, KA Bandara pun sebaiknya disubsidi. Pilihan pemerintah hanya dua. Pertama, tidak menyubsidi KA Bandara dengan konsekuensi load factor rendah sehingga operator terus merugi dan memaksa pemerintah membantu pendanaan. Kedua, menyubsidi tarif agar load factor tinggi sehingga operator tetap sehat tanpa bantuan pemerintah. (*)




Kirim Komentar Anda