l Pasar Saham Masih Positif | Investor Daily
ID Logo
Selamat datang Tamu   |   
Kamis, 21 Maret 2019
BS logo

Pasar Saham Masih Positif
Rabu, 6 Maret 2019 | 9:25

Investor melihat perkembangan harga saham di gedung BEI, Jakarta, belum lama ini.  Foto ilustrasi: Investor Daily/David Gita Roza Investor melihat perkembangan harga saham di gedung BEI, Jakarta, belum lama ini. Foto ilustrasi: Investor Daily/David Gita Roza

Pasar modal Indonesia belum kehilangan pamor. Buktinya, investor asing masih menorehkan tren positif, baik di pasar saham maupun surat berharga Negara (SBN). Di pasar saham, asing membukukan pembelian bersih (net buy) Rp 8,24 triliun selama tahun berjalan (year to date/ytd). Di pasar SBN, total kepemilikan asing bertambah Rp 52,63 triliun.

Berbekal tren positif tersebut, masuk akal jika para analis memprediksi net buy asing di pasar saham tahun ini bakal tembus Rp 46 triliun dan kepemilikan asing di SBN akan naik dua kali lipat. Pada 2018, asing mencatatkan penjualan bersih (net sell) atau minus Rp 50,74 triliun, sedangkan kepemilikan asing di SBN bertambah Rp 57,1 triliun.

Dalam kalkulasi para analis, dorongan dana asing yang masif akan membuat indeks harga saham gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia (BEI) melaju kian kencang di jalur hijau. Pada pengujung 2019, IHSG diprediksi tembus 7.000, naik 13% dibanding posisi akhir 2018 pada level 6.194.

Selain dihela dana asing, pasar saham domestik bakal terdongkrak kondisi ekonomi global dan dalam negeri yang lebih kondusif. Dengan dukungan kondisi ekonomi makro yang lebih baik, ‘gangguan’ yang muncul di pasar saham diyakini hanya bersifat temporer dan merupakan koreksi sehat, bukan fundamental.

‘Gangguan’ dalam beberapa hari terakhir yang mengakibatkan IHSG terpuruk --diikuti aksi jual oleh investor asing-- dianggap cuma ‘riak-riak’ kecil yang tak akan menyebabkan ‘kapal saham’ oleng, apalagi sampai karam. Tak akan butuh waktu lama bagi IHSG untuk kembali mengangkat jangkar, mengembangkan layar, dan membelah lautan.

Sumber sentimen negatif di pasar selama ini tak jauh-jauh dari isu perang dagang antara AS dan Tiongkok, perkembangan suku bunga The Fed, serta perlambatan ekonomi Tiongkok. Sentimen-sentimen tersebut sesungguhnya sudah masuk kalkulasi para investor di lantai bursa. Perundingan dagang antara AS dan Tiongkok hampir final.

Presiden Donald Trump dan Xi Jinping diperkirakan mencapai kesepakatan formal pada pertemuan puncak 27 Maret mendatang. Sentimen negative yang saat ini muncul semata-mata karena munculnya kekhawatiran terhadap perlawanan di dalam negeri masing-masing jika persyaratan-persyaratannya terlalu menguntungkan pihak lain.

The Fed juga sudah memberikan sinyal kuat hanya akan menaikkan Fed funds rate (FFR) dua kali tahun ini dibanding empat kali pada 2018. Sikap The Fed yang dovish telah direspons para fund manager global. Sejak awal tahun, mereka mengalirkan dana-dananya ke emerging markets, termasuk Indonesia, karena suku bunganya dianggap lebih menguntungkan.

Perlambatan ekonomi Tiongkok pun bukan isu baru. Bank Dunia dan Dana Moneter Internasional (IMF) sejak satu dekade lalu memprediksi pertumbuhan ekonomi Negeri Tirai Bambu bakal melambat dari 10,6% ke level 6%. Ekonomi RRT pada 2018 diperkirakan tumbuh 6,6% disbanding tahun sebelumnya 6,9%, sedangkan tahun ini diproyeksikan tumbuh 6,2%. Andai ekonomi Tiongkok tumbuh di bawah angka-angka proyeksi, masyarakat internasional sudah maklum. Tiongkok sedang berupaya menyeimbangkan kembali (rebalancing) ekonominya dengan mengerem laju pertumbuhan agar tidak terlampau panas (overheating) sehingga terhindar dari krisis.

Pertumbuhan ekonomi yang tidak terlampau tinggi adalah pilihan yang harus diambil Tiongkok sejalan dengan kebijakan negara itu untuk tidak lagi menggantungkan mesin ekonominya kepada ekspor, melainkan kepada konsumsi domestik. Yang sedang diupayakan saat ini adalah penurunan ekonomi yang lunak dan landai, bukan terjun bebas.

Dari dalam negeri, pemerintah dan Bank Indonesia (BI) terus mengobarkan optimisme bahwa perekonomian nasional pada 2019 bakal lebih baik. Pemilihan presiden (pilpres) dan pemilihan anggota legislatif (pileg) bukan momok bagi investor, melainkan harapan, karena --seperti biasanya-- pemilu akan berlangsung aman, damai, dan demokratis.

Pemerintah dan BI berjanji akan bahu-membahu mengatasi sejumlah persoalan krusial, seper ti deficit neraca transaksi berjalan (current account deficit/CAD), di antaranya dengan menggenjot ekspor dan memangkas impor. Pemerintah dan BI juga akan bersinergi di sisi fiskal dan moneter untuk mengawal inflasi tetap rendah agar daya beli masyarakat terjaga.

Untuk mendorong pertumbuhan ekonomi yang tahun ini ditargetkan mencapai 5,3%, pemerintah bertekad melanjutkan deregulasi investasi guna menarik sebanyak mungkin investasi langsung (direct investment). Agar daya beli tetap kuat, BI akan melanjutkan pelonggaran kebijakan makroprudensial. Berpegang pada asumsi-asumsi ekonomi global yang cenderung terpola, ditambah kondisi ekonomi nasional yang lebih kondusif, kita kian yakin bearish di pasar saham tidak akan permanen. Pasar saham tidak akan crash. Pasar bakal kembali bullish. Koreksi saat ini masih dikategorikan sehat dan wajar sebagai cerminan karakter pasar yang dinamis.

Kita bahkan patut menduga aksi net sell investor asing ---yang membuat posisi net buy terpangkas lebih separuhnya dari Rp 14,5 triliun pada awal Februari menjadi Rp 8,24 triliun pada 5 Maret-- terjadi hanya karena mereka sedang memaksimalkan keuntungan. Bisa pula karena asing mengalihkan dananya ke instrumen lain, sambil menunggu kesempatan terbaik untuk masuk lagi ke pasar saham.

Peluang asing kembali memborong saham masih terbuka lebar, mengingat valuasi saham di BEI masih terbilang murah. Rata-rata rasio harga saham dibanding keuntungan per saham (price to earning ratio/PER) di BEI masih 15,1 kali. Harga saham di bursa domestik akan semakin murah karena para emiten tahun ini diproyeksikan mencetak laba lebih baik dari tahun lalu.

Tak ada alasan bagi investor domestik untuk galau, cemas, apalagi panik gara-gara aksi jual saham oleh investor asing. Para investor local dituntut tetap tenang dan bijak, jangan bermental gerombolan (herd mentality). Keputusan investasi yang diambil harus benar-benar berdasarkan perhitungan investasi, bukan atas dasar ikut-ikutan investor asing.

Bila investor lokal ikut-ikutan mengambil posisi jual dan terus ‘mengekor’ investor asing, pasar saham Indonesia bisa oleng, bahkan karam. Jika itu terjadi, para investor domestiklah yang ‘buntung’ karena terlambat memanfaatkan momentum. (*)




Kirim Komentar Anda