l Grab Perkenalkan Teknologi Antikecurangan | Investor Daily
ID Logo
Selamat datang Tamu   |   
Kamis, 21 Maret 2019
BS logo

Grab Perkenalkan Teknologi Antikecurangan
Oleh Emanuel Kure | Kamis, 14 Maret 2019 | 13:07

President of Grab Indonesia Ridzki Kramadibrata (kanan), bersama Head of User Trust at Grab Wui Ngiap Foo (kiri) dan Kepala Sub Direktorat Penyidikan Kementerian komunikasi dan InformatikaTeguh Arifyadi saat peluncuran Grab Defence di Jakarta, Rabu (13/3/19). Grab Defence merupakan teknologi deteksi dan pencegahan kecurangan terbaru untuk mitra Grab. Foto: DEFRIZAL President of Grab Indonesia Ridzki Kramadibrata (kanan), bersama Head of User Trust at Grab Wui Ngiap Foo (kiri) dan Kepala Sub Direktorat Penyidikan Kementerian komunikasi dan InformatikaTeguh Arifyadi saat peluncuran Grab Defence di Jakarta, Rabu (13/3/19). Grab Defence merupakan teknologi deteksi dan pencegahan kecurangan terbaru untuk mitra Grab. Foto: DEFRIZAL

JAKARTA – Grab, platform everyday super app terkemuka dan decacorn pertama di kawasan Asia Tenggara, meluncurkan teknologi deteksi dan pencegahan kecurangan (fraud) terbaru untuk para mitranya. Teknologi ini diberi nama Grab Defence.

Teknologi tersebut diperkenalkan pertama kali di Indonesia, Rabu (13/3/2019). Hal ini akan mendukung kinerja Grab yang telah beroperasi dan menyediakan layanan di delapan negara, yakni di Indonesia, Singapura, Filipina, Malaysia, Thailand, Vietnam, Myanmar, dan Kamboja.

Rangkaian perangkat Grab Defence akan tersedia untuk mitra strategis terpilih di Indonesia pada kuartal II-2019. Selanjutnya, diluncurkan ke seluruh mitra pada akhir tahun ini.

Dengan Grab Defence, para mitra bisa mengurangi tindak kecurangan untuk memperkuat ekosistem teknologi dan transaksi di platform Grab. Melalui teknologi tersebut, Grab juga bisa lebih mencegah aksi kecurangan di platformnya, seperti mengakali global positioning system (fake GPS), mengakali aplikasi (fake application), dan order fiktif (opik/fake transaction).

Head of User Trust of Grab Wui Ngiap Foo mengatakan, tindak kecurangan terus berevolusi, termasuk pada jasa sewa kendaraan yang pemesanannya secara online (ride-hailing). Karena itulah, Grab terus berusaha membangun algoritme yang terbaru yakni Grab Defence, yang juga dapat berevolusi dan mempelajari pola tindak kecurangan. Hal ini dilakukan agar Grab bisa selangkah lebih maju dari pelaku dan modus operandi kejahatan yang terus berkembang.

“Setiap hari, machine learning (ML) kami menganalisis jutaan data secara real-time untuk mendeteksi pola kecurangan, baik yang sebelumnya telah ada maupun yang baru. Perangkat Grab Defence akan menjadi bagian dari strategi platform terbuka milik Grab dan serangkaian application programming interface (API), untuk membantu mitra mengintegrasikan layanan mereka dengan Grab,” tutur Wui, saat pengenalan Grab Defence di Jakarta, Rabu (13/3).

Grab Defence tersebut, lanjut dia, merupakan gebrakan baru Grab untuk terus berbenah, agar tetap menjadi yang terbaik dan bisnisnya semakin berkembang di Asia Tenggara. Pekan lalu, Grab telah mengumumkan menjadi perusahaan decacorn pertama di kawasan Asia Tenggara, setelah Grab meraih pendanaan dari investor senilai lebih dari US$ 4,5 miliar. Decacorn merupakan perusahaan rintisan berbasis teknologi (start-up) yang memiliki valuasi minimal US$ 10 miliar.

Grab ini naik kelas, setelah sebelumnya masuk unicorn bersama Go-Jek, Tokopedia, Traveloka, Bukalapak, Lazada, dan Sea Group di kawasan Asia Tenggara. Unicorn adalah usaha rintisan berbasis teknologi atau start-up yang terus berkembang dan memiliki valuasi perusahaan minimal US$ 1 miliar. (lm)

Baca selanjutnya di https://id.beritasatu.com/home/rata-rata-kehilangan-32/186630




Kirim Komentar Anda