l RI Pacu Ekspor Kayu Olahan ke Vietnam | Investor Daily
ID Logo
Selamat datang Tamu   |   
Kamis, 21 Maret 2019
BS logo

RI Pacu Ekspor Kayu Olahan ke Vietnam
Jumat, 15 Maret 2019 | 0:20

JAKARTA – Pemerintah Indonesia melalui Kementerian Perdagangan berupaya memacu ekspor kayu ringan olahan ke Vietnam. Salah satunya dengan memaksimalkan ekspor hasil olahan kayu jenis sengon dan jabon melalui kegiatan pertukaran informasi dalam ajang Business Support Organization (BSO) Exchange dan Business To Business (B2B) Matchmaking di Ho Chi Minh City, Vietnam, pada 5-10 Maret 2019.

“Melalui kegiatan ini, kami berupaya dan berkomitmen memfasilitasi para pelaku usaha kayu ringan agar dapat memperluas pasar ekspornya, khususnya ke Vietnam. Mengingat, naiknya kebutuhan Vietnam akan kayu ringan sebagai bahan baku industry furnitur dan pangsa ekspor kita yang masih relatif kecil ke negara ini,” kata Direktur Pengembangan Ekspor Nasional Kementerian Perdagangan (Kemendag) Arlinda, Rabu (13/3).

Arlinda mengatakan, Indonesia merupakan produsen kayu ringan terbesar di dunia, terutama untuk jenis sengon dan jabon. Berdasarkan data UN Comtrade, pada tahun 2017 nilai ekspor kayu ringan Indonesia ke Tiongkok sebesar US$ 244,46 juta, sementara nilai ekspor Tiongkok ke Vietnam sebesar US$ 181,31 juta.

“Pada tahun tersebut, nilai ekspor kayu ringan Indonesia ke Vietnam hanya sebesar US$ 10,48 juta, sehingga Indonesia masih memiliki potensi yang cukup besar untuk meningkatkan ekspor produk kayu ringan ke Vietnam,” ujar Arlinda.

Direktur Kerja Sama Pengembangan Ekspor Kemendag Marolop Nainggolan mengungkapkan, selama ini nilai tambah produk kayu ringan asal Indonesia masih didominasi Tiongkok, dan hanya sedikit yang yang diolah di Indonesia.

Sebagian besar produk kayu ringan Indonesia diekspor ke Tiongkok dalam bentuk setengah jadi. Setelah diolah, Tiongkok mengekspor kembali produk kayu ringan ini ke negara lain seperti Amerika Serikat, dan negara-negara di kawasan Eropa, serta Vietnam.

“Kegiatan BSO Exchange dan B2B Matchmaking ini akan memberikan nilai tambah bagi sektor kayu ringan Indonesia untuk pasar produk inovasi kayu ringan, sehingga dapat dinikmati para pelaku usaha kita,” tegas Marolop.

Di sela kegiatan tersebut, menurut Marolop, telah dilakukan penandatanganan nota kesepahaman (MoU) antara perusahaan Indonesia dengan anggota asosiasi Vietnam, Handicraft and Wood Industry Association (HAWA) dan Binh Duong Furniture Association (BIFA). Sebanyak tujuh perusahaan eksportir kayu ringan Indonesia menandatangani MoU dengan 15 perusahaan anggota asosiasi tersebut.

“Diharapkan perusahaan Indonesia dapat memaksimalkan MoU ini, khususnya dalam memperkenalkan kayu ringan asli Indonesia sebagai pengganti bahan baku furnitur dan konstruksi yang selama ini memanfaatkan limbah kayu dari Chile dan Brasil. Dari pertemuan tersebut telah membuahkan percobaan pesanan sebesar US$ 5 juta,” kata Marolop. (epa)




Kirim Komentar Anda