l Integritas Vertikal, Integritas Horisontal | Investor Daily
ID Logo
Selamat datang Tamu   |   
Rabu, 24 April 2019
BS logo

RAHAYU PUSPASARI, Direktur Utama Lembaga Manajemen Aset Negara (LMAN)

Integritas Vertikal, Integritas Horisontal
Jumat, 29 Maret 2019 | 13:48

Rahayu Puspasari, Direktur Utama Lembaga Manajemen Aset Negara (LMAN). Foto: Investor Daily/EMRAL Rahayu Puspasari, Direktur Utama Lembaga Manajemen Aset Negara (LMAN). Foto: Investor Daily/EMRAL

Tak diragukan lagi, integritas adalah modal utama dalam berkarier atau memimpin. Sayangnya, integritas kerap diidentikkan dengan hal-hal yang sifatnya horizontal atau hubungan antarmanusia semata. Padahal, integritas sesungguhnya bukan hanya mengatur hubungan antarmanusia, tapi juga hubungan yang sifatnya vertikal, dengan Yang Maha Kuasa. Integritas horizontal yang didukung integritas vertikal akan melahirkan integritas sejati, bukan integritas semu.

“Integritas itu relevansinya langsung dengan Yang Di Atas. Jika integritas tidak ditempatkan paling atas, kepemimpinan dan organisasi akan rapuh,” kata Direktur Utama Lembaga Manajemen Aset Negara (LMAN) Rahayu Puspasari kepada wartawan Investor Daily Triyan Pangastuti dan Kunradus Aliandu di Jakarta, belum lama ini.

Rahayu Puspasari percaya bahwa integritas tidak datang tiba-tiba. Integritas harus dibangun dalam waktu lama, butuh konsistensi, bahkan pengorbanan. “Integritas akan melahirkan kepercayaan. Mendapatkan kepercayaan itu susah, menghilangkannya gampang,” ujar dia.

Rahayu meyakini perjalanan hidup seseorang sudah digariskan Tuhan. Sebagai makhluk-Nya, ia tinggal bekerja secara ikhlas dan benar. “Kita tinggal do it right and do it smart. Lakukan saja dengan effort terbaik kita. Kerja keras tidak pernah mengkhianati hasil, jadi lakukan saja dengan ikhlas dan benar,” tegas dia.

Apa saja target Rahayu Puspasari untuk LMAN? Apa obsesinya untuk lembaga yang memiliki misi khusus membangun tata kelola dan mengoptimalkan aset negara itu? Mengapa ia menganggap determinasi sangat penting? Berikut petikan lengkapnya:

Bagaimana perjalanan karier Anda hingga memimpin LMAN?

Saya memulai karier di Kementerian Keuangan (Kemenkeu). Saya alumni STAN (Sekolah Tinggi Akuntansi Negara). Begitu lulus, saya masuk gerbong ikatan dinas di Kemenkeu. Pada 1994, saya masih diploma III akuntansi, di bawah unit Badan Akuntansi Keuangan Negara yang tugasnya waktu itu mengawal proses penyusunan laporan keuangan berkaitan dengan perusahaan.

Awalnya saya diberi tugas melakukan sosialisasi. Pada 1999 saya cuti dan mengambil sekolah di Monash University, kemudian kembali pada 2001 dan saya langsung ditempatkan di sekretaris eselon 1. Dulu saya sempat ditempatkan di tim secretariat penyusunan paket Undang-Undang (UU) Keuangan Negara. Setelah itu saya dapat promosi pada 2003. Saya mendapat banyak penugasan, sifatnya satuan tugas yang mengawal project, di antaranya soal pembentukan Komite Standar Akuntansi Pemerintah (KSAP). Di sana saya nge-lead membuat sekretariatnya.

Jadi, sistem kerja pertama kali, mulai dari filling system dan mekanisme kerja, saya yang lead timnya. Kemudian, yang cukup signifikan adalah menjadi tim project management office untuk reorganisasi Kemenkeu yang pertama. Kemudian lahir UU Keuangan Negara. Dulu namanya bukan Kemenkeu, tapi Departemen Keuangan (Depkeu). Waktu itu lahir Direktorat Jenderal (Ditjen) Perbendaharaan dan Badan Kebijakan Fiskal (BKF).

Selanjutnya saya menangani lagi pekerjaan rumah (PR) pembentukan jabatan fungsional di Ditjen Perbendaharaan dan dapat project lagi mengawal reformasi audit. Sebab, menurut UU, peran audit eksternal dan audit internal harus dipisah. Saya mengawal tim itu, menjadi project manager-nya dari tahun 2006 sampai 2018.

Selanjutnya saya ditugaskan ke Direktorat Jenderal Kekayaan Negara (DJKN) karena baru dibentuk. Jadi, saya banyak berkaitan dengan pembentukan pola baru, mekanisme baru, atau perubahan baru, dan organisasi baru. Sepanjang perjalanan karier saya, setiap unit baru akan dibentuk, saya masuk ke sana.

Waktu di DJKN, saya diberi tugas project yang sangat krusial, yaitu mengawal penertiban barang milik negara yang saat itu menangani inventarisasi dan penilaian untuk aset negara. Output akhirnya adalah peningkatan status laporan keuangan pemerintah pusat.

Pada 2009, saya kuliah lagi, ambil S3. Saat kembali, saya mendapat penugasan membuat kajian tentang LMAN. Setelah itu saya diminta menjadi tenaga pengkaji dan mengawal pembentukan LMAN pada tahun 2015. Akhirnya dibentuk (LMAN), saya masih menjabat sementara di situ.

Berarti kelebihan Anda adalah membentuk mekanisme atau organisasi baru?

Saya nggak tahu. Menurut saya, bisa jadi karena background saya lebih ke tata kelola, kemudian strategic management. Kalau mau membentuk hal-hal baru memang menggunakan pendekatan seperti itu.

Saya melihat tugas sebagai bentuk kepercayaan dan itu merupakan reward. Saya justru senang hati ketika mendapat tugas (baru), lalu menemukan sesuatu. Kan itu menantang banget.

Gagasan besar Anda di LMAN?

Keyword dalam visi besar LMAN yaitu pengelola dan penggerak serta mengoptimalkan asset negara. Juga kepentingan publik. Komponen ini perlu di-push dan harus jelas kriteria suksesnya seperti apa.

LMAN adalah organisasi di bawah Kemenkeu yang memiliki pekerjaan ala korporat. Kami mengemban misi khusus dari Kemenkeu untuk membangun tata kelola serta mengoptimalkan asset negara. Dalam tiga tahun pertama, tugas kami adalah membangun dan memperbaiki tata kelola aset yang nilainya begitu besar, sekitar Rp 90 triliun.

Kami harus memenuhi syarat dan peraturan untuk membangun unit melalui inovasi, layaknya korporat yang harus terus menjaga tata kelola. Itu tidak mudah karena membutuhkan proses. LMAN punya tugas mengelola aset negara, di mana aset yang dikelola memiliki manfaat finansial dan manfaat multiplier effect.

Nilai aset kelolaan LMAN secara akumulatif adalah Rp 29 triliun. Sedangkan perolehan PNBP dari optimalisasi aset yang dilakukan LMAN pada 3 tahun pertama adalah sebesar Rp 1,2 triliun.

Sejauh ini LMAN telah memberikan manfaat ekonomi maupun sosial kepada Negara dan publik. Itulah ukuran sukses LMAN dalam tiga tahun pertama, dan diharapkan terus berlanjut.

Terobosan yang Anda lakukan?

LMAN hadir untuk memperkuat dan mempercepat program pemerintah serta memberikan kepastian pengadaan lahan agar infrastruktur konstruksi berjalan tepat waktu. Gebrakan pertama adalah memberikan cara mengelola asset negara, mengoptimalisasi asset negara agar bisa diterima mitra dan publik, dalam hal ini investor swasta yang mengoptimalkan asset LMAN Dahulu saya berpikir, jika kita menggunakan pendekatan birokrasi semata akan sulit. Tapi sekarang bagaimana caranya secara instan kita bisa mengoptimalkan. Maka diperlukan cara baru dan inovasi pengelolaan aset.

LMAN melakukan optimalisasi aset dengan melakukan berbagai analisis dan inovasi, bagaimana caranya agar aset dapat dimonetisasi. Selanjutnya adalah proses tata kelola yang baik dalam skema land funding untuk mendanai lahan. Hal itu juga membutuhkan baik dalam skema land funding untuk mendanai lahan. Hal itu juga membutuhkan tata kelola yang cepat namun prudent. Jadi intinya adalah kita harus menerapkan hal-hal baru, cara-cara baru untuk mengoptimalisasi aset.

LMAN hadir dengan memberikan kepastian dalam pengadaan lahan yang tepat waktu, sehingga proyek dapat berjalan cepat. Hal utama dari esensi keberadaaan LMAN adalah cara negara merespons optimalisasi aset negara.

Semua sudah sesuai harapan?

Pasti ada saja yang belum dipenuhi. Investor berharap LMAN lebih fleksibel dalam merespons pasar. Untuk itu, kami harus melakukan banyak upaya, salah satunya dari sisi regulasi yang mendukung fleksibilitas kami. Tapi progress-nya positif. Dulu kami harus jemput investor, sekarang calon investor mulai datang. Dulu kami promote peran advisory LMAN, sekarang mereka datang meminta jasa advisory LMAN. Itu indikator bahwa tantangan sedikit demi sedikit bisa dihadapi. Namun tantangan kedua, yaitu bagaimana melahirkan inovasi dari waktu ke waktu dan mengawal   dari sisi kebijakan, itu nggak mudah.

Di mana bagian tersulitnya?

Tantangan regulasi sebelumnya kurang mendukung percepatan. Untuk mengubah itu perlu effort. Ekspektasi pemerintah itu kan menjaga aset, padahal kebutuhannya bukan hanya menjaga, tapi juga mengoptimalkan aset. Itu tantangan terbesarnya.

Berikutnya, tantangan terkait spesialisasi untuk mengelola aset, mau tidak mau butuh expert khusus atau tenaga khusus, mulai dari engineering hingga ekonom. Kami butuh semua itu. Caranya bagaimana? Berarti organisasi harus hybrid. Ketika mereka sudah hadir dan melengkapi LMAN, di situ kami mengubah cara lama ke cara baru, meskipun tidak sertamerta direkrut kemudian in.

Karena itu, perlu leadership sendiri bagaimana membuat lingkungan atau suasana bekerja menjadi nyaman. LMAN punya 73 pegawai, campuran antara swasta dan aparatur sipil negara (ASN). Sekitar 85% pegawai LMAN masih kalangan milenial.

Selain itu bagaimana bisa membangun potensi yang besar dengan melakukan kolaborasi antarpegawai dan menggunakan aturan main yang sama seperti di pemerintah. Hal itu juga dirasakan sebagai tantangan dan merupakan seni leadership tersendiri.

Anda punya gaya kepemimpinan seperti apa?

Ini organisasi birokrasi, tapi rohnya harus korporat, artinya rohnya harus entrepreneurship. Mau nggak mau, pertama yang harus saya promote adalah gaya yang membuat orang berpikir bahwa saya adalah entrepreneur. Kalau approach ke tim, itu partisipatif. Artinya kami meyakini kekuatan LMAN di SDM, bukan karena asset banyak. Aset banyak tapi kalau SDM-nya tidak mampu mengelola, juga nggak bisa.

Kuncinya bagaimana kami bisa saling menguatkan atau memberikan semangat, memotivasi SDM yang milenial untuk memberikan yang terbaik. Saya harus lebih banyak berkomunikasi atau menjadi mentor dibandingkan menjadi seorang pemimpin atau supervisor yang memerintah. Saya harus ikut turun ke bawah.

Saya memberikan kesempatan untuk memberi masukan dan berani mengkritik. Belum tentu saya sebagai pimpinan memiliki ide yang baik. Saya perlu membangun suasana bekerja yang kondusif untuk bisa menstimulasi ide, kritik, dan perubahan-perubahan. Inovasi adalah seni tersendiri di LMAN.

Apa filosofi Anda?

Saya memiliki tiga filosofi. Pertama, saya meyakini bahwa segala sesuatu sudah tertulis di loh mahfuz, sehingga tinggal do it right and do it smart, lakukan saja dengan effort terbaik kita. Saya meyakini kerja keras tidak pernah mengkhianati hasil, jadi lakukan saja dengan ikhlas dan benar.

Kedua, integritas adalah karakter utama dan fundamental yang harus dimiliki team leader. Integritas bisa melahirkan sifat jujur. Integritas bukan hanya mengatur hubungan antarmanusia, tetapi memiliki relevansi langsung dengan Yang Di Atas. Jika integritas tidak ditempatkan paling atas, kepemimpinan dan organisasi akan rapuh.

Integritas akan melahirkan kepercayaan. Tapi kepercayaan harus dibangun. Mendapatkan kepercayaan itu susah, menghilangkannya gampang. Kita bisa saja manis sama orang, tapi kalau kepala, hati, dan ucapan berbeda, orang nggak percaya kepada kita.

Ketiga, determinasi, bagaimana bila jatuh bangun bisa tetap konsisten dan gigih untuk mencoba mengejar apa yang sudah direncanakan atau diinginkan. Saya kan ASN, public server atau pelayan publik.

Saya berupaya memiliki determinasi tinggi untuk melayani publik dengan baik. Jika diminta bekerja satu bulan, ya harus dikerjakan dalam waktu setengah bulan atau lebih cepat. Kalau diminta hasilkan satu, ya hasilkan dua. Poinnya nggak memilih pekerjaan, utamakan integritas dan determinasi terhadap apa yang ingin dituju.

Obsesi Anda untuk LMAN?

Saya kan tidak seterusnya di LMAN. Jadi, saya berharap selama kepemimpinan saya ini, saya bisa meninggalkan legacy organisasi yang kuat, SDM yang andal, dan tata kelola yang baik. Itu PR besar yang harus saya wujudkan. Kemudian, saya berharap bisa mendorong inovasi dan tata kelola yang kuat. Itu saya coba wujudkan bertahap. Tidak mungkin tiga tahun langsung semua dapat diselesaikan, apalagi inovasi itu nggak ada hentinya.

Cara Anda membagi waktu dengan keluarga?

Support dari keluarga itu penting. Jika tidak ada support, saya tidak bisa melaksanakan tugas dengan baik. Melalui support itu ada sharing tanggung jawab. Anakanak saya sudah tahu apa yang harus dilakukannya.

Saat weekend, pertama yang wajib kami lakukan adalah kuliner atau ngopi-ngopi cantik dengan orang tua saya. Anak-anak ikutan Orang tua saya kan tinggal di Tangerang, itu saya wajibkan supaya bertemu orang tua. Kami biasanya mencoba berbagai kuliner dan mengobrol bersama, karena orang tua itu ibarat Tuhan kita di dunia. Saya juga sering menghabiskan waktu bersama anak-anak, dengan menonton film.

Siapa sumber inspirasi Anda?

Saya memiliki role model, Ibu Sri Mulyani (Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati). Beliau adalah contoh orang yang menjalankan segala sesuatu secara konsisten. Ibu Sri Mulyani menanamkan kepada kami cara bekerja, cara memperlakukan institusi, dan cara memperlakukan negara. Beliau selalu tekankan bahwa kami jangan bekerja setengah hati. Kami harus betul-betul bekerja sepenuh hati, karena itulah cara kita memperlakukan negara.

Baca juga https://id.beritasatu.com/home/berbagi-ilmu-dengan-kaum-marginal/187042




Kirim Komentar Anda