l Kesederhanaan Menjaga Integritas | Investor Daily
ID Logo
Selamat datang Tamu   |   
Kamis, 21 Maret 2019
BS logo

KARTIKA WIRJOATMODJO, Direktur Utama PT Bank Mandiri (Persero) Tbk

Kesederhanaan Menjaga Integritas
Senin, 11 Maret 2019 | 22:35

Kartika Wirjoatmodjo, Direktur Utama PT Bank Mandiri (Persero) Tbk. Foto: Investor Daily/IST Kartika Wirjoatmodjo, Direktur Utama PT Bank Mandiri (Persero) Tbk. Foto: Investor Daily/IST

Bankir berintegritas? Itu sudah lazim karena integritas adalah syarat mutlak untuk menjadi seorang bankir. Tapi berintegritas dan sederhana? Itu yang jarang. Setuju atau tidak, kesederhanaan adalah gaya hidup yang sulit ditolak oleh seorang bankir. Seolah sudah menjadi kodratnya, profesi bankir kerap diidentikkan dengan gaya hidup high class.

Kartika Wirjoatmodjo termasuk bankir yang jarang itu; bankir yang menjadikan kesederhanaan sebagai bagian jalan hidupnya.

“Saya mewarisi kesederhanaan dari kedua orang tua saya,” kata Direktur Utama PT Bank Mandiri (Persero) Tbk tersebut.

Bagi eksekutif kelahiran Surabaya, 18 Juli 1973 yang akrab dipanggil Tiko itu, memilih hidup sederhana sebagai bankir tidaklah sulit, meski ia menakhodai bank raksasa yang baru saja masuk di antara 2.000 perusahaan terbaik di dunia untuk kenyamanan bekerja versi Forbes.

Kuncinya ternyata cuma satu, yakni menjadikan integritas di atas segalanya. Pria yang memulai karier sebagai konsultan pajak dan akuntan ini percaya bahwa integritas dan kesederhanaan adalah mata rantai yang tak dapat dipisahkan dan saling mendukung. Bukankah seseorang seringkali terpeleset karena tergoda kemewahan?

“Saya terus belajar bagaimana mengutamakan integritas di atas segalanya dengan tetap hidup sederhana, membuka diri, dan menjaga interaksi dengan lingkungan sekitar,” papar Tiko, yang mendapat amanah untuk menakhodai Bank Mandiri sejak Maret 2016.

Rupanya, jiwa sosial kedua orang tua membentuk Tiko sebagai pribadi yang suka membantu orang lain. Ayah dan ibunya berprofesi sebagai dokter di sebuah rumah sakit di Surabaya.

“Tapi penghasilan kedua orang tua saya dari profesi dokter tak berlebihan karena ibu dan bapak saya lebih banyak memberikan layanan sosial ketimbang tujuan komersial,” tutur Tiko yang tercatat sebagai bankir termuda di antara bank-bank BUMN. Apa obsesi Kartika Wirjoatmodjo untuk Bank Mandiri?

Bagaimana cara ia memimpin bank pelat merah yang melantai di Bursa Efek Indonesia (BEI) dengan sandi saham BMRI itu? Apa strategi ayah dua putri ini dalam memajukan bank berlogo pita emas tersebut? Berikut petikan lengkapnya:

Bisa cerita perjalanan karier Anda?

Waktu kecil, saya sebetulnya tidak pernah bercita-cita menjadi bankir. Jadi, karier bankir awalnya bukanlah impian saya. Tapi rupanya takdir berkata lain. Saya akhirnya berkarier di industry keuangan, khususnya dunia perbankan.

Saya memulai karier sebagai konsultan pajak dan akuntan di RSM AAJ pada tahun 1995-1996. Selanjutnya, saya bekerja sebagai analis kredit di Bank Industri Jepang tahun 1996-1998, Konsultan Senior di PwC Financial Advisory Services tahun 1998-1999, dan Boston Consulting Group tahun 2000-2003.

Pada tahun 2003, saya bergabung dengan Bank Mandiri sebagai Kepala Departemen Analisis Strategi dan Keuangan di Grup Strategi dan Kinerja.

Dalam perkembangan selanjutnya, saya mendapat amanah untuk memimpin divisi itu sebagai Group Head. Pada tahun 2008, saya ditugaskan di Mandiri Sekuritas sebagai Managing Director.

Selanjutnya, saya mendapat tugas sebagai Chief Executive Officer (CEO) di Indonesia Infrastructure Finance, dari tahun 2011 sampai 2013. Lalu saya ditempatkan di Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) sebagai Kepala Eksekutif pada tahun 2014-2015.

Dalam rapat umum pemegang saham (RUPS) tahunan Bank Mandiri tahun 2015, saya diangkat menjadi Chief Financial Officer (CFO) atau Direktur Finance and Strategy Bank Mandiri. Dalam RUPS Bank Mandiri pada Maret 2016, saya diangkat menjadi Direktur Utama.

Nilai-nilai apa yang Anda pegang sebagai CEO?

Saya berupaya untuk mengutamakan integritas di atas segalanya, dengan tetap hidup sederhana. Tapi saya berusaha untuk tidak kaku. Saya membuka diri dan menjaga interaksi dengan lingkungan sekitar. Sejak kecil, saya dididik oleh orang tua agarsuka membantu orang lain.

Nilai-nilai kesederhanaan itu juga hasil tempaan orang tua?

Betul. Ayah dan ibu saya berprofesi sebagai dokter di sebuah rumah sakit di Surabaya. Meski orang tua saya menjadi dokter, kehidupan kami sederhana saja. Penghasilan kedua orang tua saya dari profesi dokter tak berlebihan karena beliau lebih banyak memberikan layanan social ketimbang tujuan komersial.

Kiat sukses Anda?

Mungkin cara pandang saya. Saya selalu berupaya untuk memiliki kemampuan dan keluasan cara pandang terhadap dunia perbankan. Menurut saya, kemampuan mengembangkan interpersonal skill untuk meyakinkan orang lain agar bisa bekerja sama dengan kita, sangat baik untuk kemajuan diri sendiri.

Selain itu, saya ingin menekankan bahwa technical skills itu penting. Tapi ada hal yang lebih penting, yaitu persistensi atau kegigihan. Kita harus gigih dalam belajar maupun bekerja, memperluas network, dan membina relationship. Karena dengan kegigihan itu, kita bisa meminimalisasi gap apa pun yang kita punya.

Cara pandang karyawan bank generasi dulu dengan sekarang berbeda. Bagaimana Anda menjembataninya?

Tentu saya harus menyesuaikan. Saya tidak bisa menggunakan cara -cara lama atau pendekatan lama kepada karyawan. Karena sebagian besar karyawan Bank Mandiri adalah generasi milenial maka saya pun harus menggunakan cara-cara milenial.

Saat ini, media sosial (medsos) merupakan alat komunikasi yang efektif bagi saya untuk berkomunikasi dengan ribuan pegawai Bank Mandiri di seluruh Indonesia. Tak hanya bicara bisnis, terkadang saya juga banyak menerima curahan hati (curhat) para pegawai.

Bayangkan, karyawan Bank Mandiri berjumlah sekitar 38 ribu orang. Dari jumlah itu, 70%-nya merupakan generasi milenial, dan mereka sangat beragam.

Apa saja yang mereka sampaikan saat curhat?

Banyak dan beragam, mulai dari permintaan kenaikan bonus, hingga minta dipindahkan dari area kerjanya saat ini.

Anda tidak merasa terganggu?

Tidak, saya sama sekali tidak merasa terganggu. Justru ini menjadi salah satu cara saya untuk membangun kedekatan dengan para pegawai.

Kesimpulan Anda tentang generasi milenial?

Saya sering mendengar keluhan, kira-kira bahwa bekerja di bank itu kaku, pulangnya pasti malem, pake seragam, birokratif, nggak cocok banget bagi para milenial. Sampai sekarang saya masih sering mendengar stereotype tentang budaya kerja di perbankan seperti itu.

Kami di Bank Mandiri menyadari hal itu. Ada pergeseran cara pandang pada generasi sekarang. Makanya, Bank Mandiri sudah berubah.

Tantangan yang dihadapi Bank Mandiri?

Usia Bank Mandiri sebetulnya baru aja menginjak ke-20 pada tahun 2018. Tantangan Bank Mandiri banyak, baik yang berhasil dilalui, maupun yang gagal. Tantangan itu manjadi pelajaran bagi kami untuk melakukan perubahan dan perbaikan secara terus-menerus.

Perubahan dan perbaikan ini dipengaruhi oleh banyak faktor, mulai dari adanya turbulensi kondisi makro ekonomi global dan domestik, disrupsi digital dan teknologi, hadirnya generasi milenial, serta era VUCA atau volatility, uncertainty, complexity, dan ambiguity (gambaran situasi di dunia bisnis pada masa kini ketika pemimpin merasakan kecemasan yang tinggi pada perusahaan yang dipimpinnya).

Generasi sekarang adalah generasi yang sangat kreatif, borderless, tech savvy, dan mudah sekali mengutarakan pendapat. Inilah antara lain yang mendorong kami untuk melakukan perubahan. Karena lebih dari separuh karyawan Bank Mandiri adalah generasi milenial maka saya pun mengubah budaya dan lingkungan kerja.

Dengan semangat perubahan, saya berupaya mendorong seluruh karyawan untuk menjadi tangguh, memiliki pola pikir pembelajar, bekerja secara cerdas, agile, adaptif, dan solutif, serta memiliki jiwa intrepreneurship dan resiliensi yang tinggi.  (bersambung)

Baca selanjutnya di https://id.beritasatu.com/wawancara/sempat-berkarier-di-berbagai-perusahaan/186474




Kirim Komentar Anda


Data tidak tersedia.