l Man Jadda Wa Jada | Investor Daily
ID Logo
Selamat datang Tamu   |   
Kamis, 21 Maret 2019
BS logo

SUBASKORO, Direktur Utama/Owner PT Tunas Bersaudara Juawana

Man Jadda Wa Jada
Selasa, 26 Februari 2019 | 15:23

Subaskoro, Direktur Utama/Owner PT TUNAS BERSAUDARA JUWANA. Subaskoro, Direktur Utama/Owner PT TUNAS BERSAUDARA JUWANA.

Ketika banyak anak muda memilih bergelut dengan bisnis kekinian di bidang teknologi dan kuliner, Subaskoro justru tertantang menekuni bisnis perikanan tangkap. Itu bisnis yang penuh spekulasi, sarat risiko, dan sangat tergantung kondisi alam.

Subaskoro memilih bisnis perikanan tangkap bukan semata karena dirinya anak nelayan. Lebih dari itu, pria yang akrab dipanggil Baskoro ini ternyata mengemban misi tersendiri, yakni ingin ikut berperan menjaga laut. Alasannya, di dalam laut ada ‘harta karun’ yang tidak akan ada habisnya asalkan dijaga secara seksama.

Baskoro terjun ke bisnis perikanan tangkap sejak duduk di bangku kuliah, meski saat itu sekadar bantu-bantu orang tua. Baru setelah lulus pada 2013, ayah satu anak ini mendirikan PT Tunas Bersaudara Juwana.

 Bisnis yang dijalani pengusaha kelahiran Pati, 11 Mei 1987, ini sejatinya merupakan bisnis turunan keluarga, mengingat aset pertama perusahaan adalah kapal milik sang ayah. Tapi karena misi pribadi yang selaras dengan misi keluarga, Baskoro bertekad akan berjuang keras untuk mengembangkannya.

“Bisnis perikanan tangkap tidak mudah. ‘Gambling’-nya tinggi. Tiga bulan melaut, pulang tak bawa ikan. Dalam setahun, tiga bulan cuaca buruk. Jadi, kami benar-benar bertaruh dengan alam, tapi di lautlah ‘harta karun’ itu berada,” kata Baskoro kepada wartawati Investor Daily Tri Listiyarini dan Novy Lumanauw serta pewarta foto Emral Firdiansyah di Jakarta, baru-baru ini.

Dengan karakter bisnis demikian, pelaku usaha perikanan tangkap, termasuk Baskoro, harus pintar-pintar mengatur strategi. Ia mesti berupaya menjaga arus kas perusahaan tetap lancar, sekalipun musim paceklik datang. Karena itu, membangun kemitraan dan menciptakan trust dan chemistry dengan buyer terus dilakukan.

Ke depan, Baskoro berharap bisnis yang digelutinya berkembang lebih pesat, pelan namun pasti. Setelah sukses menjaring ikan di tengah laut, Baskoro ingin membawa perusahaannya merambah bisnis trading perikanan, baik grosir maupun ritel. Untuk jangka panjang, dia juga ingin ekspansi ke bisnis pengalengan ikan.

Baskoro adalah tipe pekerja keras, sungguh-sungguh, pantang menyerah. Ia percaya bahwa keberhasilan hanya bisa diraih oleh orang yang sungguh-sungguh, sebagaimana pepatah Arab, man jadda wa jada (siapa yang bersungguh-sungguh maka ia akan mendapatkan apa yang diinginkannya).

Nilai-nilai kehidupan itu diperoleh Baskoro saat ia menimba ilmu di Pondok Pesantren (Ponpes) Modern Gontor. Baskoro memang santri tulen. Setamat SD, ia langsung masuk Ponpes Modern Gontor 3 (Darul Ma’rifat, Kediri). Hanya setahun atau sampai kelas 1 (setingkat SMP) di Gontor 3, Baskoro melanjutkan kelas 2 dan 3 (setingkat SMP), hingga kelas 4, 5, dan 6 (setingkat SMA) di Ponpes Modern Gontor 1 (Darussalam, Ponorogo).

Filosofi man jadda wa jada terpatri kuat dalam benak Baskoro. Ia bahkan menjadikan salah satu semboyan Ponpes Modern Gontor itu sebagai filosofi bisnisnya. “Itu pelajaran pertama yang saya peroleh saat belajar di Gontor. Saya selalu mengingatnya sampai sekarang bahwa saya harus bersungguh-sungguh agar berhasil,” tutur dia. Berikut petikan lengkapnya:

Anda langsung terjun ke bisnis perikanan?

Sebelum terjun ke bisnis perikanan, saya sempat memulai bisnis skala usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM), yaitu berdagang susu sapi murni. Itu sewaktu saya di Jakarta tahun 2012, selama dua tahun. Alhamdulillah waktu itu hasilnya cukup bagus. Tapi karena satu-dua hal, bisnis tersebut tidak ada yang melanjutkan karena saya harus pulang kampung. Jadi, saya tidak langsung terjun ke dunia bisnis yang kompleks, seperti perikanan.

Mengapa Anda memilih bisnis perikanan tangkap?

Pertama, mungkin Anda pernah mendengar lagu Nenek Moyangku Seorang Pelaut. Nah, nelayan itu pelaut, anak cucunya juga harus menjadi pelaut. Kalau dulu anak cucu menjadi pelaut atau nelayan beneran, sekarang cukup memanajemeni apa yang ada di laut. Saya adalah anak dan cucu nelayan, saya akan ikut menjaga laut dengan cara berupaya ikut mengelolanya secara baik.

Kedua, ada yang bilang tidak semua pebisnis berani masuk perikanan tangkap. Ya, sudah banyak pengusaha yang mencoba bisnis ini, banyak yang sukses, tapi banyak juga yang gagal. Sebab, bisnis ini memang benar-benar bertaruh dengan alam.

Kita nggak tahu apa yang akan terjadi di laut. Kita hanya bisa berdoa ketika kapal sudah lepas jangkar atau bertolak dari dermaga, berharap yang baik-baik saja. Kita nggak tahu ngapain aset (kapal) kita di laut. Kalau asetnya ada di darat, kita bisa perlihatkan kepada orang lain. Kalau kapalnya di laut, bagaimana mau memperlihatkan kepada orang-orang? Ini yang sedang saya coba taklukkan.

Kapan Anda memulai bisnis tersebut?

Bisnis yang saya jalankan ini sebenarnya bisnis turunan keluarga. Pada 1970-1980-an, kakek saya adalah salah satu dari tiga orang di daerah saya yang memiliki kapal. Saat itu ayah saya yang jadi manajer usaha kakek saya. Pada 1990-an, ayah saya mencoba mandiri dengan membuat kapal sendiri, hingga akhirnya memiliki tujuh unit kapal. Tapi pada tahun 2000-an, ayah saya rupanya juga sibuk di koperasi perikanan sehingga sekian waktu bisnis itu terbengkalai.

Pada 2007, saat saya mulai kuliah di Jakarta, ambil ilmu komunikasi. Bisnis perikanan tangkap di Pati mulai tumbuh dan mencapai puncaknya pada 2010-2012. Karena itu, pada 2013 begitu lulus, saya langsung diminta pulang untuk mengembangkan bisnis ayah saya. Saat itu, berdirilah PT Tunas Bersaudara Juwana.

Saya memulai bisnis dengan bendera PT Tunas Bersaudara Juwana benar-benar dari nol. Saat saya mendirikan perusahaan baru, ayah saya hanya berpesan agar saya mengembangkan bisnis menjadi lebih besar. Modalnya tiga kapal dari ayah saya yang usianya sudah sangat tua, sekitar 20 tahun, ibaratnya saya dapat ampas.

Baru pada 2014, perusahaan saya mulai membuat kapal sendiri, dua kapal. Bisnis mulai benar-benar berjalan atau operasional pada akhir 2015 atau awal 2016. Kapal ayah saya kemudian saya jual karena mengoperasikan kapal tua itu banyak makan biaya.

Anda lulusan ilmu komunikasi, ada kendala saat memulai bisnis ini?

Awalnya memang tidak mudah. Namun dengan upaya yang sungguh-sungguh, jalan terbuka. Sebenarnya saat kuliah, saya sudah bantu-bantu ayah saya, misalnya membantu mengurus perizinan kapal di kantor Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) di Jakarta. Itu tentu pengalaman yang berharga.

Ilmu yang saya peroleh saat kuliah juga cukup bermanfaat, terutama untuk menjalin komunikasi bisnis dan membangun jaringan bisnis. Juga bermanfaat saat saya harus berkomunikasi dengan para sesepuh di keluarga saya. Bisnis yang saja jalani ini awalnya bisnis keluarga, sehingga saya harus bisa mengombinasikan pemikiran-pemikiran terdahulu dengan pemikiran masa kini. Bisnis perikanan tangkap ini kental dengan nuansa kejawen, sehingga saat pertama perusahaan beroperasi sempat ada debat, tapi bisa selesai dengan komunikasi yang baik.

Bisnis Anda sangat tergantung musim, bagaimana mengatasinya?

Betul sekali. Dalam setahun, hanya 8-9 bulan kami bisa operasional secara normal, 3-4 bulan lainnya adalah cuaca buruk. Seperti saat ini (Januari-Maret), benar-benar buruk. Januari sampai periode Imlek, hujan terus-menerus dan terjadi badai. Bahkan, di wilayah pengelolaan perikanan (WPP) tertentu dalam setahun kami hanya bisa bekerja lima bulan, sisanya cuaca buruk dan tidak musim ikan.

Banyak kapal yang berlindung karena badai, ombaknya setinggi 6-7 meter. Alhasil, kapal tidak bisa dioperasikan. Ini tentu memengaruhi cashflow atau likuiditas perusahaan. Apalagi bisnis perikanan tangkap sifatnya triwulanan. Tiga bulan kapal melaut, baru pulang.

Apa yang saya lakukan adalah mengupayakan berbagai cara agar cashflow perusahaan terjaga, seperti melakukan kemitraan, menjaga komunikasi dan chemistry bisnis, terutama dengan pembeli (buyer). Bahkan terkadang ada istilah kasbon. Kapal berangkat maka pemilik kapal bisa minta pinjaman dana ke buyer. Ketika kapal pulang, hasil melautnya langsung dipotong, ini demi likuiditas. Dalam konteks ini, trust harus ada antara pemilik kapal atau pemilik ikan dan pembelinya.

Berapa jumlah karyawan Anda dan berapa hasil tangkapan setahunnya?

Karyawan sekitar 100 orang, termasuk nakhoda, semuanya lokal. Kapal kami berdaya 150 gross tonnage (GT) untuk satu kapal, termasuk kapal besar. Karena usaha perikanan tangkap itu sifatnya spekulasi, tergantung cuaca atau alam, sulit saya bilang berapa tangkapan per tahun, tentatif. Contoh, kita punya kapal bagus, alat tangkap oke, nakhoda dan anak buah kapal (ABK) oke, ternyata di laut nggak oke, ya nggak bisa apa-apa.

Punya kapal nggak begitu oke, punya alat tangkap nggak begitu sempurna, tapi nakhoda dan ABK semangat, cuaca di laut baik, ya tentu dapat banyak. Hasil tangkapan dalam setahun total bisa 400 ton per kapal dengan catatan kapalnya 150-200 GT. Kalau di bawah 150 GT, bisa 200-300 ton setahun, nggak tentu karena muatan kapal tidak sama persis dengan ukuran kapal.

Pernah melaut tak dapat ikan?

Perikanan tangkap itu banyak spekulasinya. Kapal bagus, ABK oke, tapi tidak dapat apa-apa, itu biasanya terjadi pada November-Februari. Yang benar-benar cuaca buruk itu akhir Desember sampai pasca-Imlek biasanya sampai akhir Februari. Ketika masuk angin barat, cuaca buruk, hujan turun, badai keluar, gelombang tinggi, hampir sebulan kapal 2-3 kali berlindung atau tidak beraktivitas.

Yang kami takutkan ketika musim seperti ini ya modal kerja yang diangkut atau dibawa kapal nggak balik. Kami sudah siap-siap dari rumah mengincar posisi ini, kami yakin ada ikan, disamperin, ternyata ikannya kabur. Saat kapal berlindung, ABK hanya makan dan tidur. Berarti perbekalan yang kami bawa keluar terus, terutama solar.

Untuk alat tangkap pelagis (ikan perairan pantai) besar dengan kapal ukuran 100-200 GT modal kerjanya Rp 700 juta sampai Rp 1 miliar. Kebetulan kapal saya di atas 150 GT, jadi kurang lebihnya segitu. Kalau di bawah 100 GT dengan alat tangkap pelagis besar berkisar Rp 400-600 juta untuk sekali trip.

Jadi, bisnis perikanan berbeda dengan bisnis lain. Makanya butuh perhatian khusus dari pemerintah. Pemerintah jangan lagi ‘memunggungi’ atau ‘membelakangi’ laut, karena memang harta karun ada di situ (laut) yang nggak ada habisnya. Tapi laut harus dijaga.

Ketika kapal berlindung, kami sebagai pemilik kapal merasa waswas, khawatir. Takut nanti nggak bisa bayar pinjaman. Karena itu perlu keberpihakan, misalnya ada bunga kredit khusus untuk perikanan yang bisa diakses seluruh pelaku usaha perikanan tangkap.

Seperti apa gaya kepemimpinan Anda?

Saya mencoba untuk menjadi seorang pemimpin, bukan bos. Dalam pandangan saya, kalau bos itu dia tidak mau tahu, pokoknya karyawan harus menguntungkan perusahaan. Kalau tidak menguntungkan perusahaan maka dipecat, tidak ada kesempatan 2-3 kali bagi karyawan tersebut, itu gaya bos.

Kalau seorang pemimpin, dia tidak akan segan memberi kesempatan 2-3 kali bagi karyawannya untuk menunjukkan performanya. Contohnya ketika nakhoda senior akan memasuki pensiun atau pindah kapal, biasanya dia akan menyerahkan posisi tersebut kepada wakilnya. Tapi dalam bisnis perikanan, tidak semua wakil nakhoda punya jiwa petarung, karena itu saya beri kesempatan dia satu trip dulu.

Bila satu trip belum berhasil, saya kasih kesempatan satu trip lagi. Kalau tidak berhasil juga, baru diberhentikan. Sempat ada yang memprotes saya, tapi saya katakan bahwa saya harus profesional. Sebab, sebagai chief executive officer (CEO), saya punya tanggung jawab dan beban yang cukup berat.

Strategi Anda memajukan perusahaan?

Pertama, terus berusaha membangun jaringan dan komunikasi seluas mungkin karena bisnis tanpa jaringan itu nonsense. Bukan hanya di dalam negeri, tapi juga ke luar negeri. Kedua, saya sedang menyiapkan diri agar perusahaan bisa merambah bisnis trading ikan, baik grosir maupun ritel, skala kecil maupun besar. Ketiga, saya juga sedang menyiapkan diri agar perusahaan bisa melakukan ekspor sendiri dan masuk bisnis hilir, khususnya pengalengan ikan. Ini merupakan target menengah-panjang.

Apa filosofi hidup Anda?

Man jadda wa jada, siapa yang bersungguh-sungguh maka dapatlah ia. Ini pelajaran pertama yang saya peroleh saat belajar di Gontor dan selalu teringat sampai sekarang bahwa saya harus bersungguh-sungguh agar berhasil. Saya kira, ini tidak hanya berlaku untuk saya yang kebetulan terjun di bisnis perikanan tangkap, tapi juga untuk profesi lain, entah pengusaha atau bahkan wartawan sekalipun.

Prinsipnya, kalau kita bersungguh-sungguh dalam mengerjakan sesuatu maka kita akan mendapatkan jalan yang terbuka dan mudah. Kalau tidak sungguh-sungguh ya mungkin kita mendapatkan hasil, tapi hasilnya jadi setengah-setengah.

Dukungan keluarga terhadap karier Anda?

Kalau istri dan anak pasti mendukung karier saya. Apa yang menjadi karier dan tanggung jawab dari suaminya pasti didukung. Keluarga besar saya juga mendukung. Bagaimana pun, bisnis yang saya jalankan ini awalnya punya keluarga yang harus saya kembangkan. Kami empat bersaudara, saya nomor dua. Saya dan adik saya persis yang lulusan Fakultas Perikanan Undip (Universitas Diponegoro Semarang), yang mengelola bisnis. Adik saya bagian operasional, sedangkan saya bagian manajemen makro dan eksternal. (*)

Baca juga https://id.beritasatu.com/home/ingin-bikin-film-perikanan/185888




Kirim Komentar Anda


Data tidak tersedia.