l Sukses Itu Bagaimana Mensyukuri Nikmat | Investor Daily
ID Logo
Selamat datang Tamu   |   
Rabu, 24 April 2019
BS logo

AHMAD FAJAR, Direktur Utama PT Bank Victoria International Tbk

Sukses Itu Bagaimana Mensyukuri Nikmat
Selasa, 19 Maret 2019 | 8:51

Memiliki jalan hidup yang mulus tanpa rintangan mungkin menjadi impian banyak orang. Tapi, percayalah, jalan hidup yang terlalu mulus justru bisa menjadikan seseorang terjebak dalam stagnasi, monoton, kehilangan hasrat (passion), gampang terpuruk, mudah patah arang.

Ada kalanya besi harus ditempa agar menjadi kuat dan kokoh, batu bata harus dibakar agar tak mudah pecah, pisau harus diasah agar lebih tajam. Begitu pula karier dan kehidupan seseorang. Ia perlu ditempa terlebih dahulu dengan berbagai masalah agar menjadi dewasa, matang, kuat, dan tahan banting. Ahmad Fajar bersyukur pernah melewati fase-fase itu.

Sebelum menakhodai PT Bank Victoria International Tbk, ia merasakan pahit getir karier sebagai banker saat bekerja di Bank Century, mulai dari persoalan keuangan, hukum, hingga masalah pengambilan keputusan.

Berpegang pada filosofi bahwa seseorang hanya bisa kuat jika ditempa, Ahmad Fajar merasa tertantang untuk menjadikan bank sakit itu menjadi bank sehat. Bankir yang satu ini juga percaya bahwa keterlibatannya dalam penanganan masalah di Bank Century bakal menjadikannya pribadi yang lebih baik.

“Artinya, dalam bekerja, kita dihajar apa pun harus merespons secara positif, karena pisau itu tidak akan tajam jika tidak diasah, besi tidak akan kuat jika tidak ditempa. Jadi, kita harus dihajar dulu, ditempa dulu, supaya menjadi orang berguna,” kata Ahmad Fajar kepada wartawati Investor Daily Nida Sahara dan pewarta foto Emral Firdiansyah di Jakarta, baru-baru ini.

Pada 2008, pria kelahiran Solo, 22 Januari 1966 ini mendapat tugas dari pemerintah melalui Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) untuk mengelola dan menyehatkan bank yang diambil alih pemerintah, PT Bank Century Tbk. Bank Century kemudian berganti nama menjadi PT Bank Mutiara Tbk.

Saat diambil alih, bank tersebut memiliki aset Rp 5,5 triliun, namun pada 2016 nilai asetnya melonjak hampir tiga kali lipat menjadi Rp 15 triliun.

Pada 2013, lulusan terbaik program Magister Management Universitas Padjadjaran (Unpad) Bandung tahun 2000 ini menjadi Plt Direktur Utama Bank Mutiara dalam rangka melaksanakan program divestasi sesuai amanat Undang-Undang (UU) tentang LPS. Pada 2014, Bank Mutiara sukses dijual kepada investor Jepang, JTrust Co Ltd.

Bagi Ahmad Fajar, sukses berkaitan erat dengan rasa syukur. Kesuksesan secara otomatis akan muncul ketika seseorang mensyukuri setiap nikmat yang diberikan Tuhan. “Sukses itu relatif ya. Ukuran kesuksesan setiap orang berbeda-beda. Orang bilang ini sukses, tapi orang lain belum merasa sukses. Padahal, sukses itu adalah bagaimana mensyukuri nikmat,” ujar dia.

Berikut penuturan lengkap orang nomor satu di bank yang melantai di Bursa Efek Indonesia (BEI) dengan sandi saham BVIC tersebut:

Bagaimana perjalanan karier Anda hingga memimpin Bank Victoria?

Saya bekerja itu setiap 10 tahun pindah. Mulai 1988 sampai 1998, saya bekerja di Bank Bumi Daya (BBD), kemudian bank itu dimerger dengan Bank Dagang Negara (BBD), Bank Exim, dan Bapindo menjadi PT Bank Mandiri (Persero) Tbk. Saya menjadi funding manager. Bos saya selalu memberi saya challenge, tapi saya selalu ambil positifnya bahwa suatu ketika bos saya akan ‘jatuh cinta’ kepada saya.

Jadi, yang negatif itu harus dikembalikan dengan tindakan positif. Saya terus berpikir, dia akan jatuh cinta kepada saya. Setelah tiga tahun mengenal saya, dia jadi tahu kemampuan saya. Saya pun naik pangkat karena dia mulai mencintai saya.

Lalu 10-15 tahun kemudian, sehari-hari dia makin cinta kepada saya dan membanggabanggakan saya karena bos saya ini menjadi komisaris anak perusahaan. Artinya, dalam bekerja itu, kita dihajar apa pun harus membalasnya dengan pikiran dan tindakan positif. Kemudian saya bekerja di Bank Mandiri setelah Bank Bumi Daya dimerger.

Cerita Anda masuk Bank Century?

Pada November 2008, saya ditugaskan di sana. Itu menjadi bulan yang mengagetkan bagi saya. Jam 3 pagi saya ditelepon Pak Agus Martowardojo (Direktur Utama Bank Mandiri saat itu, mantan menteri keuangan, dan mantan gubernur Bank Indonesia). Beliau bilang, “Fajar, bantu-bantu sana ke Bank Century.” Saya pikir cuma bantu-bantu saja.

Pada 1998, saya bantu Bank Mutiara. Eh, pada 2008, saya dipindahkan ke Bank Century. Saya pindah bantu-bantu Direktur Utama yang saat itu dijabat Pak Maryono (sekarang Direktur Utama BTN). Saya waktu itu baru pulang pendidikan dari Abu Dhabi (Uni Emirat Arab). Saya kaget, pagipagi disuruh pindah. Pagi-paginya, waktu itu, Ibu Sri Mulyani (Menteri Keuangan) mengumumkan Bank Century ditutup, Senin dibuka lagi dan diambil alih pemerintah. Direktur Utamanya Pak Maryono dan Direkturnya Fajar.

Reaksi Anda waktu itu?

Kaget saya, karena tidak bisa pulang, harus kerja keras supaya bank ini bisa kembali sehat. Di situlah bagian dari penugasan dan ujian hidup saya. Setelah itu, Bank Century berusaha turn-around.

Di mana bagian kritisnya?

Hari pertama, kedua, ketiga, terjadi penarikan dana sangat besar. Kami menunggu bail out dari LPS karena kurang dananya. Menunggu rapat juga kurang dananya. Pada hari ketiga, harus ambil uang. Saya terpaksa bilang ke Pak Dirut untuk ikut rapat. Saya harus cari dana. Kalau tidak, bank tersebut bisa collapse lagi.

Kami cari dana dari bank-bank lain, tapi tidak ada yang mau bantu. Pagipagi kami sudah stres karena pada jam 11 sudah harus ada dana. Saya putuskan waktu itu salat duha saja. Akhirnya dalam kondisi tertentu yang urgent, kami serahkan kepada Tuhan karena tidak ada yang menolong.

Tetap menemui jalan buntu?

Setelah salat duha, saya ingat saat itu jam 09.00, Tuhan memberikan pertolongan kepada saya, ada telepon dari senior di money market. Saya diberi dana dalam bentuk pinjaman overnight oleh big boss. Saya bilang, “Pak, saya kalau harian butuh Rp 300 juta, tapi kalau dikasih Rp 500 juta akan lebih baik.” Berarti dia orang yang cukup lama mengenal saya, tahu track record saya.

Jadi, kembali lagi, kalau kita berbuat baik dan punya track record bagus, pasti Tuhan akan membantu. Tapi dalam setiap kesulitan, kita harus berdoa dengan sungguh-sungguh. Kemudian dia tanya kapan Bank Century akan recovery. Itu pertanyaan intuitif yang sulit dijawab. Tapi atas petunjuk Tuhan, saya bilang, “Ini tanggal 22 November, nanti kira-kira 25 Februari atau tepat tiga bulan setelah hari ini, Bank Century akan recover. Karena 25 Februari itu hari raya Imlek, fengsui kami ada di situ.”

Dia kan orang Tionghoa. Bagi saya, di mana pun saya harus bisa menempatkan diri. Setelah tiga bulan, dia minta dikenalkan dengan Dirut kami.

Hasilnya sesuai ekspektasi Anda?

Setelah itu, tiga bulan kemudian kami undang 400 nasabah. Pada malam itu, kami menyatu dengan yang lain. Malam itu kami dapat uang Rp 150 miliar, padahal ekspektasi awalnya hanya Rp 50 miliar.

Kemudian, minggu depannya saya bertemu big boss. Dia bukan hanya sendiri, tapi juga bersama Direktur anak perusahaan dan eksekutif lainnya, mereka berjumlah 15 orang. Saat itu saya diberi uang dalam bentuk deposito yang jangka waktunya lebih panjang. Angkanya bukan ratusan miliar rupiah, tapi triliunan rupiah. Itu menjadi anugerah yang harus disyukuri. Saya merasa jalan saya seperti ini karena doa ibu saya.

Intinya Anda percaya bahwa keberhasilan tidak bisa diperoleh secara instan?

Pisau itu tidak akan tajam kalau tidak dipanaskan, ditempa. Kita pun begitu, harus dihajar dulu, ditempa dulu, supaya menjadi orang yang berguna. Kalau kita berpikir positif, itu akan terjadi dan terealisasi. Tim saya, orang-orang yang pernah di bawah saya, kalau dibantu dan diarahkan dengan cara yang benar, suatu saat saya akan bahagia dan bangga dengan mereka.

Jadi, teori pertama adalah ikhlas membantu orang. Kalau orang lain bisa lebih bagus dari saya, di kemudian hari saya akan bangga karena dia menjadi lebih baik.

Apa filosofi hidup Anda?

Filosofi saya mengalir saja. Punya target, punya ambisi, tapi mengalir saja. Saya sudah ‘menulis di atas bintang’, tapi kembali lagi semuanya diserahkan kepada Tuhan.

Arti sukses menurut Anda?

Sukses itu relatif ya. Orang bilang ini sukses, tapi orang lain belum merasa sukses. Padahal, sukses itu adalah bagaimana mensyukuri nikmat. Orang yang menurut kriteria orang umum dianggap sukses, tapi belum mensyukuri nikmat yang diberikan Tuhan, ya berarti dia belum sukses.

Bagi saya, kita akan bahagia apabila mensyukuri nikmat-Nya.Tapi tidak sampai di situ saja. Pencapaian itu saya syukuri, tapi satu lagi saya ingin berbuat lebih. Orang-orang bilang kesuksesan atau kebahagiaan itu akan dirasakan nanti. Tapi bagi saya, bahagia itu terjadi hari ini. Jika kita mensyukuri hari ini, itu adalah kebahagiaan. Jadi, setiap hari harus dinikmati dan disyukuri supaya bahagia.

Visi Anda dalam mengembangkan Bank Victoria?

Bank Victoria ini bank yang cukup lama beroperasi, sudah 26 tahun bertumbuh. Visi saya adalah bagaimana Bank Victoria tumbuh sustainable. Tidak perlu muluk-muluk, menjadi lebih baik dari sebelumnya, kinerja juga lebih baik. Kinerja itu akan terwujud dari kultur.

Saya ingin kultur bank ini lebih produktif. Bank Victoria sudah terkenal efisien dari sumber daya manusia (SDM)-nya, tinggal kulturnya. Pada era persaingan saat ini, bukan hanya kemampuan teknologi informasi (TI)-nya yang dituntut bagus, tapi juga pelayanannya.

Target Anda untuk Bank Victoria?

Kami sudah mengarah ke digital, memperkenalkan internet banking, digital banking. Seperti Bank Nobu (PT Bank Internationalnobu Tbk) yang sudah sangat maju di bidang transaction banking, kami ingin menuju ke sana. Filosofi Pak Mochtar Riady (founder Lippo Group) kan ingin mewujudkan bank kliring kedua setelah Bank Indonesia. Dulu BCA terwujud, sekarang Bank Nobu juga. Nah, kami ingin menuju ke sana.

Cara Anda menyinergikan visi perusahaan dengan karyawan?

Saya sudah merasakan kekeluargaannya, itu bagus dari sisi kultur kekeluargaan di bank ini. Sebelumnya saya di bank Jepang, kulturnya berbeda, disiplin secara kontrol. Orang Indonesia jago marketing, jago planning.

Begitu disuruh mengontrol pekerjaan, tidak bisa. Tapi begitu pekerjaan dikontrol, merasa dijajah. Itu yang belum diterapkan di sini. Perlahan-lahan saya ingin membentuk orang-orangnya. Pertama, visi ke depan lebih baik di kulturnya, finansial juga harus bagus.

Kedua, value di luar yang disebut good will, kultur, dan servis harus bagus, baik servis dari SDM maupun dari digital.

Apa obsesi Anda terhadap Bank Victoria?

Obsesinya, bank ini punya kinerja yang bagus, memiliki rating yang jauh lebih baik. Targetnya, Bank Victoria nanti NPL (non performing loan)-nya di bawah 2% dalam waktu tiga tahun, return on equity (RoE) di atas 8%, kemudian nilai sahamnya juga harus meningkat, karena sekarang masih stagnan.

Obsesi pribadi Anda?

Bagaimana saya tetap membantu orang-orang, bagaimana bisa support orang, bukan hanya memberi umpannya, tapi juga kailnya, termasuk kepada anakanak saya sendiri.

Obsesi saya ingin tercapai dengan baik. Kalau dibilang ke depan masih mau apa lagi, itu mengalir saja. Saya dinasihati senior bahwa Tuhan akan memberi reward yang lebih tinggi jika kita juga berbuat baik kepada orang-orang.

Lalu suatu ketika, setelah sampai pada umur tertentu, saya ingin punya lembaga yang berguna, seperti lembaga pendidikan atau keuangan. Saat berumur 60 tahun ke atas, kalau bisa, saya ingin punya suatu sekolah atau membuat perusahaan yang berguna. Karena bidang saya treasury dan capital market, perusahaan itu bisa berbentuk perusahaan manajemen aset atau private equity. Tapi saat ini saya masih happy menjadi eksekutif. Sebab, menjadi owner itu pasti berbeda jika menjadi eksekutif, begitu pula sebaliknya.

Siapa sumber inspirasi Anda?

Ibu saya, saya memanggilnya mami. Beliau selalu berpesan bahwa saya harus bisa berbuat yang terbaik di antara yang lain. Itu yang memotivasi saya. Saat itu mami saya guru SMA, beliau punya teman guru juga, anaknya pintar.

Saya disuruh menjadi pintar seperti anaknya teman mami saya, yang saat itu murid SMP, sedangkan saya masih SD. Ketika saya masuk SMP, dia masuk SMA. Sampai saya masuk SMA, mami saya bilang bahwa saya harus pintar, jangan malu-maluin, harus dapat ranking, supaya bisa masuk IPB (Institut Pertanian Bogor) tanpa tes, seperti anak teman mami.

Padahal, saya inginnya masuk ITB (Intitut Teknologi Bandung). Saya sudah kursus juga di Bandung supaya bisa masuk ITB. Waktu hari H, saya mendapat surat dari IPB bahwa saya bisa masuk tanpa tes. Berarti doa mami saya tercapai.

Mami saya tanya, lebih baik yang mana, burung yang masih di udara atau burung yang sudah kamu pegang? Intinya, apa yang saya dapat di tangan, itulah yang terbaik bagi saya.

Jadi, kita harus berniat baik. Ambisi harus punya, tapi harus bekerja lebih baik dari orang lain. Juga jangan lupa berdoa dan beribadah. Kemudian doa orang tua. Ibu itu tempat segalanya dan harus didoakan.(*)

Baca juga https://id.beritasatu.com/home/mengajar-demi-kepuasan-batin/186833




Kirim Komentar Anda